Penghuni Terakhkir, si Manja yang Gagal Hijrah

Aku adalah seorang penghuni terakhir yang kerap kali ketar - ketir dan kemudian banting setir dalam episode beranjak diatas kaki sendiri.
Iya, seorang bungsu. Kemudian deretan sifat yang melekat padanya, sering kali pula tersematkan padaku.
Manja, kosa kata umum yang acap kali penghuni terakhir dapatkan. Ku kira benar adanya. Hanya aku terbiasa belajar untuk menempatkan sesuai tempatnya. Manja yang berkeadilan, bukan manja - manja cantik ala princess.

Aku terbiasa dididik dalam keluarga yang sangat menghargai perjuangan, selalu ku dapatkan sedari aku yang dulu bocah - bocah imut nan menggemaskan terbiasa untuk berjuang terlebih dahulu sebelum terkabul keinginan oleh orangtua.

"De, kalau mau maen di timezone puasanya harus tamat yah sampe maghrib" iming - iming bapak saat usiaku  empat tahunan..

"De, kamu mau sepatu buricak- burinong (sepatu yang menyala - nyala, anak kids zaman old pasti ngerti sepatu yang dimaksud ini), kamu harus nabung, nabungnya dari uang jajan yang ibu kasih. Bukan minta bekal tambahan sebagai uang jajan" petuah ibu. Oia, waktu itu kids zaman old sering bermain uji kekayaan dengan memperlihatkan buku tabungan yang dimilikinya. Sedari kelas 3 SD sampe kelas 6 SD, buku tabunganku selalu menduduki kursi paling bontot dengan saldo terrendah. Tapi, aku tak pernah hilang kebanggaan dengan saldo terrendah tersebut, iya itu karena  jerih payuhku menyisihkan uang jajan yang kumiliki. Bukan uang tambahan dari orangtua sebagai tabungan.

Lambat laun, waktu pun bergegas laksana cahaya yang memiliki kecepatan bak kilat. Si penghuni terakhir itu, kini telah memasuki kepala dua. Usia yang pantas dikatakan dewasa. Tapi aku berkali gagal mengambil kesempatan untuk hijrah, hijrah dalam perantauan. 

Pertama saat aku menanggalkan bangku putih - abu, dalam bayangku aku bisa menjadi seorang mahasiswi di salah satu kota metropolitan. Tetapi takdir membawaku sebagai seorang mahasiswi dari sebuah kampus swasta di kota kelahiranku. Bukan, bukan karena aku gagal seleksi SNPTN karena memang aku tak pernah sekalipun mendaftarkan diri pada pintu yang terminati oleh seluruh siswa seantero negeri. Sedari awal aku memegang keyakinan bahwa jalan sukses tak selalu melewati pintu PTN. Dulu, incaranku hidup sebagai mahasiswi perantauan adalah sebagai mahasiswi di  Al - Azhar Cairo, Lipia atau alternatif terakhir SEBI. Cairo, Lipia dengan sendirinya mengeliminasiku sebelum aku bertarung karena logika yang melakukan perhitungan memiliki peluang kecil. Terakhir SEBI. untuk yang satu itu, aku fight mulai dari test tulis sampai wawancara. Alla kulli hal, aku memang tertakdirkan untuk tidak meninggalkan Garut.

Episode gagal rantau berikutnya adalah pasca kelulusanku sebagai seorang diploma. Lumrah adanya jika telah sampai pada pintu kelulusan meski bukan sarjana, setiap orang akan memasuki episode untuk melewati fase pertanyaan, "Kerja dimana?" .
Lagi - lagi untuk perantauan, mulai dari rencana  kerja yang sebatas kontrak bulanan di Kota Cirebon sampe rencana kerja menetap di Bandung yang jaraknya tidak terlampau jauh dari Garut, ada saja yang mengganjal dan membatalkan sketsa rencana untuk belajar mandiri di perantuan jika restu orangtua itu tak sepenuhnya aku kantongi.

Tentang hijrah beranjak diatas kaki sendiri dalam perantauan memang sebenar - benar episode memandirikan diri yang selalu gagal aku jalankan.  Ada yang berceloteh bahwa aku terlampau nyaman dan tidak bisa hidup mandiri untuk jauh dari orangtua. Padahal aku sangat ingin merasakan atmosfer itu, tapi restu orangtua selalu yang utama. Orangtuaku mungkin terlampau sayang dan tidak ingin melepaskan anak gadisnya yang senantiasa meramaikan rumah, eeeaaa.

Berbekal nekad pun untuk mengambil keputusan merantau, pada akhirnya ada saja halangan yang kemudian membatalkan pilihanku untuk merantau hijrah dari kota kelahiran. Memang benar, Garut itu selalu menggurat, membawa insan untuk selalu gagal move on dari tanah priyangan yang terkenal sebagai swiss van java.

Lain kesempatan, aku yang masih tak kehilangan ciri khas seorang bungsu yang selalu dimanja dan dikhawatirkan. Dalam episodeku sebagai mahasiswa kelas karyawan dan tinggal di suatu daerah yang masih menjungjung tinggi adab ketimuran. Satu pointnya, tentang jam malam. Entah sudah berapa kali aku menjelaskan, aku bisa dan "ludeng" (read: berani) untuk membawa kendaraan si biru kuda besiku sendiri dan agar tidak terlalu khawatir mencemaskanku berkendaraan di malam hari, aku meyakinkan bahwa hari ini jalanan tengah malam selalu ramai.

"De, bapak baru mau pensiun antar- jemput kamu, kalau sudah bersuami"
Itu jawaban yang paling makjleb banget, skatmate. Aku buntu untuk memenangkan argumentku tadi.

Aku si penghuni terakhir itu akan terus menyusuri lorong waktu ke depan, berdamai dan belajar dari masa yang terus ditinggalkan untuk semakin percaya bahwa selalu ada kesempatan untuk terus mendewasa. Bahkan aku memang akan selalu menjadi seorang anak meski telah memiliki nobat baru sebagai seorang istri.

Tulisan, Sebuah Pujian Yang Membangun dan Kritik yang Melenakan

Selalu ada pergantian, bukan sekedar bilangan masa yang angkanya terus berubah. Seperti tahun ini yang dalam hitungan waktu akan berganti angka. Tetapi lebih dari persoalan angka, ada beda dalam pola dari sebuah alur kehidupan.

Zaman old, sebuah tulisan dikunci rapat dalam sebuah buku bernama diary. Iya, aku salah satu usernya.
Zaman now, sebuah tulisan melayang indah dalam udara dengan radar yang kerumitannya tak aku mengerti,  tetapi bisa dengan begitu leluasa terpublish mudah. Lagi, aku adalah satu satu usernya.

Pergeseran zaman lalu menggeser kebiasaan? Dalam konteks ini, aku tak ingin berbicara benar dan salah. Mereka yang mengumbar aksara, memang ingin mendapatkan pembaca. Fiks, aku pun begitu. Oke lupakan "menginspirasi" jika itu kosakata yang teranggap alibi, toh level itu jauh sekali tingkatan yang harus dilalui. Aku akui ada harap dalam layangan aksara itu, mendapatkan pembaca. Terlebih, aku memang menaruh asa pada sebuah tulisan, memiliki karya dengan jalan meracik aksara. 

Zaman now, media memang hiburan yang mengasyikan. Aku pun merasakan. Tapi omong - omong, melayangkan tulisan di jagat maya itu untuk mencari perhatian atau gila pujian, Res? Malam itu, ku habiskan bermonolog mesra dengan diriku.

" Iya, aku mencari perhatian". Ku jawab dengan jujur. Aku ingin menjadi seorang penulis, puluhan kali aku ditolak penerbit. Sempat membuatku berhenti dan malas meneruskan revisi. Jika setidaknya aku so-so- an menjadi penulis di jagat maya, salahkah? Lupakan nasib mujur penulis kenamaan yang merintis karir kepenulisannya karena viral tulisan didunia maya. Lupakan, aku tidak berfikir sejauh itu. Jika iya, mungkin blog ini akan ku isi penuh dengan tulisan per-modulan, karena statistik laman ini, modus terbesar dalam postingan disini adalah tulisan per-modulan- yang mungkin bisa untuk sekedar copy- paste pertugasan, tidak seperti tulisan ini yang ngalor- ngidul tidak karuan.

" Terus, kenapa tidak kembali menulis dalam diary?" Oh aku masih sesekali menulis dalam buku itu, meski bentuknya tak lagi seperti diary yang dulu memiliki kunci. Yah aku masih menuangkan disana, prihal apa yang ku sebut privasi. Disana, cukup aku yang tahu.

Soal pujian, duh maafkan. Aku tegaskan perut tidak akan kenyang dengan kalimat pujian. Terserah jika dunia melabeli mereka yang kerap melayangkan aksara -seperti aku- tersebut gila pujian. Aku tak peduli, dan akan mudah ku abaikan. Tapi by the way, sebuah teorema mengatakan, "Pujian itu melenakan, dan kritik itu membangun" tetapi di dunia terbalik, teorema pun bisa berganti "Pujian itu membangun, dan kritik itu melenakan" lho kok bisa? karena sekali lagi dalam konteks realita prihal demikian, benar dan salah adalah relatif.

Iya, aku teringat. Sekelumit episode lama tentang tulisan dan sebuah pujian. Jadi tulisan tanganku bisa tergolong tulisan calon dokter gagal, kalau tidak ingin dikatan sebagai tulisan tangan dengan kategori sangat jelek. Ini beneran, aku sendiri masih shock jika membuka lembaran kertas usang yang satu- dua lembar masih bisa ku temukan, nyatanya tulisan tanganku memang begitu jelek, aku sendiri kerepotan membaca ulang. Tapi, aku pernah menemukan semangat untuk merapihkan tulisan, berkat satu pujian seorang teman, " Resti, tulisan kamu tuh bakalan bagus kalau kamunya merapih - rapih tulisan" untuk menunjukkan keseriusan kalimatnya dia bahkan mengizinkan aku menulis tugas merangkum itu dibuku tulisnya. Karena itu, aku menjadi yakin bahwa itu bukan sebuah kalimat peres, karena saat itu aku, bahkan mungkin yang lain bisa sepakat bahwa tulisanku termasuk yang mengkhawatirkan. Ini benar adanya, dalam satu mapel B. Arab, aku dan beberapa murid  yang rata- rata lelaki diberi tugas khusus untuk menulis dibuku yang menurut kesimpulanku ini karena tulisan yang mengkhawatirkan tadi. Namun, karena ujaran yang menurutku pujian itu, akhirnya mampu membuka mataku untuk setidaknya berbenah, berkat lontaran yang ku anggap pujian itu, lambat laun aku mengukir tulisan serapih mungkin dan bisa terbebas dari tugas khusus tadi. Iya, sebuah pujian yang membangun dan tidak melenakan.

Prihal kritikan yang melenakan, pernah pula ku rasakan. Aku pernah mendapat kritikan yang rasanya ( ralat, bukan karena sebatas rasa, tetapi fakta yang memang tidak ku lakukan) aku akhirnya malah terlena, menyengaja diri seperti apa yang ia kritik. Fiks, itu bukan kritikan yang membangun tapi melenakan. So, apapun yang dilontarkan dari luar, kembali kepada kita sebagai pengendali diri yang menentukan. Terlena atau terbangun?

Kuda Mesin dan Sebuah Keresahan

Pada zaman dulu, saat kuda mesin belum merajai jalanan, otomatis sebagian kids zaman old menjadi customer angkot. Namun alternatif menjadi cust angkot tak selamanya ternikmati karena satu dua hal apalagi bisa memiliki alternatif seperti kids zaman now yang memiliki pilihan lain selain menjadi cust angkot, gojek online.

Seperti pada satu moment tertentu, saat mengikuti agenda leadership Camp yang diselenggarakan oleh KAMMI *nostalgiaModeOn
Otomatis objek tempat adalah daerah terpencil tepatnya di kaki Gunung Cikuray dan sulit menemukan sarana transportasi, mungkin kali itu time is olahraga, jalan kaki kuy....

Ngah-ngeh-ngoh jadi ritme  yang mengikuti irama kaki. Sempat dapat tawaran pinjaman motor, hanya sayang kali itu baru bisa menaiki saja tanpa bisa mengemudi. Saat keahlian itu belum juga termiliki. Hal - hal serupa ini sering kali dirasakan, sampai pernah salah seorang teman berujar, " ngah- ngeh- ngohna akhawat dalam safari dakwah adalah godaan ikhwan, karena bawaannya pengen ngehalalin"

Semangat belajar ngedrive itu pun dihidupkan, yang penting bisa aja dulu. Memiliki motornya bisa menyusul. Tapi kemudian saat
kemandirian akhawat semakin terasah lebih dari sekedar bisa mengemudikan sebuah kuda besi, suara resah itu terdengar.

"Semakin akhawat mandiri, semakin resah ikhwan dan dirundung keragu-raguan untuk melangkah dan kemudian memperpanjang penantian akhawat", kira - kira pernyataan tadi, benar apa betul?

Lain waktu, saat diskusi lepas dengan seorang yang berkecimpung dalam penelitian, mengatakan fenomena sosial hari ini saat isu  emansipasi didengungkan, geliat wanita dalam meniti karier menemukan muaranya. Dada saya sesak saat beliau menuturkan bahwa dibalik meng- kota-nya sebuah desa dari  proses industrialisasi ada angka perceraian yang semakin meningkat. Berbagai faktor melatarbelakanginya, salah satunya pendapatan istri yang lebih tinggi hingga tak ada lagi kepatuhan kepada suami. 

Sampai titik itu, akal saya sampai detik ini masih mencari "harus seperti apa menyikapi  antara idealita dan realita?" Karena cermin diri itu tahu persis kaliber diri, ada kesenjangan jauh dengan Khadijah wanita kaya yang penuh iman dan rendah hati. Jalan tengah yang harus elegan menyikapi fenomena sosial dalam kondisi zaman now. Benar, akhawat bukanlah tulang punggung melainkan tulang rusuk, hanya saja ketika pilihan untuk "sedekah keluarga" itu terpilih adalah catatan bahwa kepala bahtera dalam sebuah dermaga keluarga tak pernah akan terganti.

Filosofi Valas

Minggu kemarin dalam senja yang ditemani hujan, sebagai mahasiswa kelas karyawan saya putuskan untuk tetap pergi ngampus. Hujan adalah berkah maka tak pentas untuk dijadikan kambing hitam..
Aku memiliki impian untuk menjejakkan kaki ke luar negeri, tentu selain mempelajari bahasa asing, aku juga harus mempelajari valas atau valuta asing yang merupakan media yang digunakan dalam bertransaksi dengan mata uang mancanegara sebagai partner yang tak bisa  dipisahkan. Nah, tepatnya senja yang kemudian memasuki sabtu malam itu, dalam duduk manisku aku lamat - lamat mencerna materi tentang valas.
Pasar Valuta Asing atau yang biasa disebut Valas, adalah pertukaran uang dari nilai mata uang yang berbeda. Valuta asing merupakan suatu mekanisme di mana orang dapat mmemperoleh uang dari mata uang asing atau menyediakan kredit untuk transaksi perdagangan internasioanal, mentransfer daya beli antarnegara, dan meminimalkan kemungkinan resiko kerugian (exposure of risk) akibat terjadinya fluktuasi kurs suatu mata uang.
Dimana dalam transaksi valas yang diperjualbelikan adalah selisih kurs.  Kurs ini akan selalu terkait dengan tukar-menukar uang asing di bank atau tempat penukaran uang negara lain. Dimana kurs sendiri dapat diartikan sebagai perbandingan nilai mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain, dimana kurs mata uang suatu negara bisa menguat ataupun melemah. 
Agar lebih gampang memahami, antara kurs jual dan kurs beli. Yang harus diperhatikan adalah selaku penyedia jasa dalam hal ini bank atau money changer bukan kita sebagai orang yang butuh jasa.
Berikut ini dua hal yang harus kamu fahami dari kurs.
1. Kurs jual 
Kura jual yaitu kurs yang digunakan apabila bank atau money changer menjual uang asing (valuta asing/valas) atau apabila kita akan menukarkan rupiah dengan uang asing yang kita butuhkan.

Contoh kurs jual
Resti akan liburan ke Eropa. Karena mata uang yang berlaku di eropa mayoritas euro,  Resti harus membawa mata uang tersebut. Dengan menukarkan rupiah yang dimilikinya di bank atau money changer, Resti bisa mendapatkan mata uang Euro.
Ketika  Resti akan menukarkan uang, saat itu harga kurs jual 1 EUR = Rp15.000,00. Sedangkan kurs beli 1 EUR = Rp14.000,00. Karena Resti pemilik rupiah, sedangkan bank atau money changer yang akan menjual uang asingnya, maka dalam kondisi ini yang berlaku kurs jual.
Jadi, berapa euro yang akan Resti dapatkan jika menukarkan 90 juta rupiah?
Jawab : Rp60.000.000,00 : Rp15.000,00 = €6.000
2. Kurs Beli
Kurs beli adalah kurs yang digunakan apabila bank atau money changer membeli uang asing atau apabila kita akan menukarkan uang asing yang kita miliki dengan rupiah.
Contoh kurs beli, Ade memiliki tabungan sebesar 150.00p yen. Saat itu kurs beli sebesar Rp. 124. 45 sedangkan kurs Jual 125. 60. Jika ia menukarkan ke bank atau money changer, berapa Rupiah tabungan yang dimiliki Ade?

Dalam kasus ini, Ade memiliki uang yen sebesar 150.000. Ade sebagai pemiliki mata uang asing yang akan menjual sedangkan bank sebagai pembeli mata uang yen tadi. Maka dalam kasus itu Ade terkena kurs beli, jika Kurs beli saat itu adalah 124. 45 maka penyelesaiannya menjadi :
Jawab : 124. 45 x 150.000 = Rp. 186. 6750.000
Jadi dari dua kasus tersebut, yang perlu menjadi catatan adalah dengan memperhatikan posisi Bank apakah sebagai pembeli atau penjual. Maka kurs yang berlaku sesuai dengan posisi bank bukan posisi nasabah yang digunakan.
Pun dengan kehidupan kita, kadang dalam menilai satu hal yang harus kita gunakan adalah sudut pandang orang lain bukan sudut pandang diri sendiri. Itu adalah siratan dari hikmah yang tersirat dalam materi kuliah itu. Hujan kali itu masih mengguyur kota intan, aku rapalkan do'a semoga ilmu ini bermanfaat dan bisa ku aplikasikan suatu hari dalam menjelajah tanah-Nya yang maha luas.
Pribumi, Kosa kata Yang Mampu Menyatukan

Pribumi, Kosa kata Yang Mampu Menyatukan


Belum genap satu hari dari pelantikan Gubernur terpilih DKI Jakarta. Cuit penggunaan kata pribumi seketika mencapai lebih dari 134. 000 . Dalam pidatonya itu, berikut kutipan Gubernur Anies Baswedan  yang hangat diperbincangkan publik.

"Dulu kita semua peribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituliskan pepatah Madura. Itik telon, ayam singerimi. Itik yang bertelor, ayam yang mengerami". 

 Cuitan maya itu membentuk pagar hastag ribuan. Memunculkan pertanyaan  di permukaan, tentang sila ketiga dari dasar negara kita, Persatuan Indonesia. Satu sisi menyuarakan sabda sanggahannya, bahwa apa yang dilontarkan oleh sang penguasa akan menyurut perpecahan. Satu suara anggukan lainnya menyatakan bahwa pernyataa  itu sangat tepat dengan kondisi kekinian. Agar tuan rumah berdaya di rumah sendiri dan agar masa kolonialisme itu tak terulang kembali.

Tidak bisa dipungkiri, kontroversi itu masih erat kaitannya dengan pertarungan dua kubu lalu dalam Pilkada Gubernur kemarin. Dimana nuansa konflik itu sangat kental sekali, isu sara menjadi makanan empuk setiap harinya. Hingga sering dijumpai dalam  pentas pemilihan penguasa baru itu  mampu membagi dua kubu bahkan dalam satu biduk rumah tangga.  Meski ketukan palu telah menghasilkan wajah baru sebagai penguasa Ibukota, pro kontra akan tetap mewarnai. Adalah Anies Baswedan yang pernah menjadi rektor termuda di Universitas Paramida yang juga kemarin mencuri perhatian masyarakat serta memancing riak kontroversi.

Baku ciutan saling mengkomentari itu riuh ramai menghantam jagad maya. Benang kusut pun terurai. Seolah melupakan cara mengsinergikan bagaimana mempribumikan diri dalam persatuan Indonesia. Padahal sudah dalam hitungan lama, masyarakat Indonesia dengan kemajemukannya berasama dalam etnitas bernama bangsa

Berfikir ulang tentang makna kosakata "Pribumi" dan "Indonesia", rasanya dua kosakata tersebut memungkinkan untuk membentuk satu kalimat bermakna "Persatuan".  Arti kosakata Pribumi menurut KBBI, adalah penghuni asli. Sementara mem-pribumi-kan adalah menjadikan milik pribumi. Sedangkan persatuan masih menurut KBBI adalah gabungan daei beberapa tang sudah bersatu. Dua kosa kata tersebut  bisa membentuk kalimat tanpa mesti berjalan masing - masing membentuk kalimatnya sendiri- sendiri. Bahwa menjadi seorang Pribumi yang baik dengan segala makna yang dikandung didalamnya akan membentuk Persatuan. Pribumi yang berdaya di atas kakinya sendiri kemudian mengulurkan tangan menengok kanan dan kiri lalu melangkah bersama membentuk persatuan.

Ketika Kita menjadi KAMMI

Masa kuliah adalah masa dimana pilihan untuk berkembang itu terbuka lebar. Terbebas dari rapor yang harus terhindar dari keterangan alpa, bolos sekalipun tak perlu lagi menitipkan surat tetapi diganti dengan titip absen siluman. Ini adalah bagian dari fase dimana seseorang akan menerima konsekuensi dari pilihannya.Akan sangat disayangkan jika masa kuliah hanya dihabiskan untuk kuliah lalu pulang saja apalagi hanya sekadar kuliah lalu nongkrong.

Pintu untuk berorganisasi ketika masa kuliah itu adalah kesempatan yang berhak untuk kamu rasakan, bisa terlibat dalam organisasi intra kampus atau ekstra kampus. Atau bahkan menjadi seorang double player yang menjadikanmu semakin lekat dengan dinobatkan sebagai aktivis. 

KAMMI adalah salah satu organisasi ekstra kampus yang lahir ketika masa orde baru dan patut untuk kamu pertimbangkan, dimana salah satu keuntungan terlibat dalam organisasi ekstra adalah meluaskan jaringan. Di sana kamu akan digembleng bukan untuk sekadar menjadi mahasiswa, tetapi menjadi seorang yang berkarakter pemimpin dengan jiwa hanif dan intelektualitas bernalar ilmiah yang tak abai dengan kondisi sosial masyarakat. Kadang pandangan mahasiswa mengenai organisasi ekstra seperti KAMMI bak memandang materi perkuliahan yang sukar, padahal banyak hal menyenangkan yang juga dirasakan aktivis KAMMI.

Berikut ini adalah hal-hal pengalaman berkesan yang sering kali dirasakan oleh aktivis KAMMI.

1. Menjadi Mansur.

Mansur alias manusia syura, pesan dari ponsel seorang kader KAMMI biasanya pasti ditemui jarkom info untuk syura. Atau ketika kamu menjadi PJ syura dengan tugas menjarkom seluruh pengurus, dari puluhan SMS yang kamu kirim, yang hadir hanya hitungan jari. Disana adalah saat yang tepat untuk melontarkan jargon kekinian, "Yang sabar mblo, ini ujian"

2. Demo

Aktivitas yang satu ini, dirasa masih menjadi benci-benci rindu oleh mahasiwa bahkan sebagian aktivis. Belum berasa menjadi mahasiswa jika belum pernah ikut aksi jalanan. Namun akan ditemui perbedaan antara aksi solidaritas kemanusiaan yang banyak diikuti oleh mahasiswa dengan aksi jalanan untuk social control kepada pemerintah yang sepi dengan masa aksi.

3. Quote ala jomblo aktivis KAMMI

Aku + kamu = KAMMI adalah quote umum kader KAMMI untuk menutupi kejombloannya.

4. Sidang Mantuba

Mantuba adalah sejenis makluk asing dari planet lain yang mewajibkan seorang aktivis untuk membaca dan memahami buku yang dijadikan pedoman untuk referensi intelektualitas dalam pergerakan KAMMI.

Saat bagian kaderisasi mengevaluasi tugas baca para kadernya, seringkali episode buku yang tertukar itu terjadi. Seharusnya buku nuansa pergerakan malah terganti dengan novela atau buku kisaran pernikahan

5. Dilema aksi atau kuliah

Sebelum seorang mahasiswa tingkat akhir digalaukan dengan pilihan maisah, kuliah, Aisyah dan dakwah. Terlebih dahulu ia akan dihadapkan dengan pilihan rumit, yakni pilih kuliah atau aksi? Dimana aksi adalah amanah rakyat, dan kuliah adalah amanah orangtua.

Lima hal itu, sering kali dirasakan oleh aktivis KAMMI dan akan terkenang dalam perjalanan hidupnya.

 

 

 

Sepenggal Kenangan

Anak-anak d3 pasti ngalamin stuck moment kaya gini.
"Kagok ath, kenapa gak ambil S1 ajah sekalian?"
Kira- kira begini kali yah pilihan ganda sebagai jawaban yang cocok untuk pertanyaan diatas
A. Takdir
B. Biar cepat lulus
C. Biar cepat nikah
C. Semua jawaban benar
Yups. Bener sekali, survei membuktikan jawaban paling benar adalah D, gado - gado alias rupa - rupa alasan melatarbelakangi kami memilih menjadi pejuang diploma. Karena satu alasan tak cukup membuatmu mengambil kesimpulan, hahassikk..

Stuck moment kedua yang teralami oleh diri pribadi adalah tidak memiliki minat untuk menjadi profesional bankir tapi mengambil studi jurusan keuangan perbankan. Dan usut punya usut satu,dua, empat
( woi tiganya kelewat) teman sekelas pun mengalami hal yang sama, jadi yah wajarlah semangat belajarnya up..up..down..down..down..down..
down..down..
Terjun payung melesat kebawah..Maba masih bisa idealis harus lulus comloude, tingkat dua mulai merasa salah jurusan dan kemudian tingkat akhir yang penting lulus wkwkwkkwk...
Tapi sesalahnya tersesat jurusan, banyak kenangan yang masih saja berkelabat hangat dalam ingatan.
Moment saat praktikum bankir yang mewajibkan setiap kelompok seragaman, karena saya dan kawan-kawan sekompok mahasiswa yang menerapkan teori motif ekonomi bahwa segala sesuatunya dilakukan dengan biaya yang sekecil mungkin untuk mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin. Alhasil karena kami pun mengenakan kaos panitia OSMA (Ospek) karena kebetulan yang mendukung, anggota kelompok semua aktif sebagai mahasiswa yang juga berorganisasi.
Dua diantara moment berikutnya yang selalu terngiang dalam ingatan adalah saat tugas persentasi metlit. Yang dilaksanakan bada UAS teeakhir sebagai penjuang diploma. Kecerobohan saya terulang, tugas maha penting itu tertinggal di rumah dan amat sangat merusak konsentrasi dari dua matkul yang diujiankan. Saat selesai mengerjakan, serusuh mungkin tancap gas ke rumah untuk mengambil tugas karena kesulitan saat meminta tolong orang rumah untuk mengambil dan membawakannya ke kampus. Tapu eh tapi saat sampai di kampus, nuansa galau karena korban PHP itu mulai tercium. Hitungan menit berlalu, sang dosen yang di tunggu tak kunjung data. Akhirnya kami pun melampiaskannya dengan fhoto bersama.

Gantung pena-nya Tere Liye, Antara Hobi atau Profesi?

Setelah lama tak memantau laman FB, shocking terapi muncul saat membaca postingan tentang Tere Liye yang bersepakat dengan Penerbit untuk tidak akan mencetak lagi buku karya Tere Liye. Why? Usut punya usut beban pajak yang diberikan kepada penulis sangat tinggi, bahkan penulis dengan royalti rendah pun terkena pajak, misal karya tulisan majalah  yang bilangannya bukan jutaan, pada digit seratus pun kewajiban pajak tidak menjadi gugur. Bahkan melebihi ketentuan zakat yang 2,5%. Jadi beginilah Indonesia yang pendapatan tertingginya dari sektor pajak, jadi kalau misalnya dinegara kita terjadi gerakan mangkir pajak bisa dipastikan negara kita akan seperti judul buku Tere Liye, negeri di ujung tanduk. Proud untukmu wahai para penggiat literasi, kalian adalah salah satu sumber pendapatan negara.

FYI, Tere Liye tak menjadikan penulis profesi utamanya. Sudah kita ketahui bersama beliau adalah seorang akuntan  profesional, meskipun saya pribadi tak mengetahui dengan pasti penghasilan dari profesinya sebagai akuntan tapi melihat sepak terjangnya sebagai penulis kenamaan, mencetak banyak buku best seller sangat tidak mungkin penghasilan dari menulisnya sangat tinggi dan (mungkin yah) bisa melebihi penghasilannya sebagai seorang akuntan. Keputusan ini diambil dalam upaya kritik pedas untuk pemangku kebijakan agar ada kebijaksanaan dalam keputusan bukan malah bijak sana, bijak sini yang lain kena bajak hehe..
Dari keputusan Tere Liye ini, mungkin saya mengambil hipotesis bahwa Tere Liye memang menulis dari hati atau bisalah dikatakan sebagai hobi yang dibayar bukan sebagai profesi meskipun beliau profesional bahkan mastah dalam per-novel-an. Pantas saja, yang datang dari hati akan diterima pula oleh hati. Tapi bukan satu kesalahan pula, ketika menjadikan tulisan sebagai jalan menyambung hidup. Temukan titik temu antara hobi dan profesi. Hanya terkadang ketika pilihan profesionalitas terambil, ada koensekuensi yang harus diikuti. Menulis dengan selera pasar, disini ranah industri bermain. Memenangkan hati pasar menjadi kunci.

So apapun yang terjadi,  untuk hobi ataupun profesi tetaplah menulis dari hati.

Episode pembelajar

Aku akan pergi, meninggalkan jejak kesalahan juga harapan..
Aku akan pergi, meski tak terkenang tapi membawa bingkisan kenangan dari kurun dua tahun ini...
Aku akan pergi,
Dengan kata maaf untuk pamit diri...
Aku akan pergi,
Menepis takutku menghadapi esok hari...
Aku akan pergi,
dengan memegang alunan kata yang ku coba yakini kebenarannya
"Jangan risau dengan apapun yang sudah terjamin"
Aku akan pergi,
Dengan kerisauan yang hanya boleh termiliki dari kalimat penerus selanjutnya
"Tapi risaukanlah amalan kita" karena aku akan pergi
~~~~~
Agar tak terjadi dispersepsi dalam rima  seperti apa yang pernah diposting disini..restitriherdiyanti.blogspot.com/2017/07/dispersepsi-jomblo-singlelilah-dan.html , baiklah akan ku tulis pula makna racikan kata tadi. Penggalan melodi kata tadi teralun saat keputusan resign terambil. Resign dengan segala multi alasan yg melatarbelakakinya, meski kenyamanan telah dikantongi bagaimanapun dua tahun bukan waktu yg sebentar menjadi bagian disana, tepat senin akhir july itu keputusan resign membulat.
Kini, episode peralihan yg sedang bergulir. Menyelam pada dunia baru, asing penuh dengan ketidaktahuan...
Menjadi seorang staf TU untuk sekolah yang bernama SMP Qiyadi Al-Fatih, yah sebuah sekolah yang diharapkan bisa menjadi mesin pencetak generasi pemimpin yang akan membawa peradaban pada cahya Islam. Pagi hari ada beda disana, ber-almatsurat-an terlebih dahulu untuk kemudian dilanjut Dhuha dan setor hafalan sebelum jam belajar dimulai..
Buta, sama sekali tak tahu apapun tentang dunia pendidikan, tentang segala arsip dokument yg diperlukan, tentang segala hal diluar panggung kegiatan belajar-mengajar, juga kemampuanku dalam komputerisasi  yg tak bisa dibilang high-tec menyempurnakan episode baruku sebagai pembelajar, learning by doing.
Masih mendapati waktu yg kosong, ku isi pula untuk mengajar dua orang anak, lagi...ini pun diluar basic yang kumiliki, tak mengantongi bedground pendidikan juga kondisiku sebagai penghuni terakhir ( read:bungsu )yang memang jarang bersentuhan dengan dunia anak. Sampai hari ini pun aku masih memutar cara menemukan metode yang tepat untuk belajar, agar kata "belajar" tak diiringi kata "jenuh" dalam bayangan..
Keduanya, dalam permulaan ini kerap kali merasa salah. Ah ku bisikan salah dalam belajar itu lumrah, teruskan saja bukankah pada keduanya mengajakmu untuk keluar dari zona nyaman?
Syukuri saja ketidaktahuan, itu adalah cara untuk mengundangmu berfikir dan tetap bergerak.
Sejauh ini, aku turut bahagia melihat senyum remaja yang ceria dalam mengenyam bangku pendidikan, Pun mendampingi mereka untuk belajar mengajar bersama..

Menulis, Untuk Apa?

Jejak
Kemarin dunia maya riuh ramai dengan kedatangan seorang gadis remaja yang pintar merangkai kata, tulisannya menjadi viral sampai mengantarkannya ke istana dengan undangan-undangan yang berdatangan masuk menghampirinya. Meski kemudian diketahui tulisannya mengandung plagiat. Plagiat? What is the meaning of plagiat?
Menurut Kamus Besar Indonesia (KBBI) plagiat adalah pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan sendiri.
Tapi tak bermaksud mengiyakan argumentasi gadis remaja tadi yang menghebohkan sejagad maya itu, hanya boleh jadi benar bahwasannya seorang penulis ada masanya menjadi "plagiator" untuk kemudian sampai di tahap "Creator"
.
Jadi mengenang kembali, zaman dimana blog ini ramai justru dengan konten yang terindikasi mengandung unsur plagiat, boleh dibilang tulisan yang mendatangkan jumlah viewers yang banyak dan pemecah rekor sampai ribuan itu  mengandung unsur plagiat meski dosa plagiat itu diiringi dengan penyertaan daftar pustaka pada akhir sesi postingan yang berbau jurnal ilmiah tadi. Artikel ilmiah sudah pasti berbeda dengan tulisan opini ataupun curhat, karena otomatis mengikutsertakan pendapat-pendapat tokoh didalamnya yang kita kutip sabdanya. Dan tipe postingan ilmiah adalah salah satu tipe tulisan dimana begitu mudah mendapatkan visitors, bahkan mengundang repeat visitors karena berbagai kebutuhan untuk memenuhi referensi pemenuhan tugas. Berbeda dengan tulisan curcol, satu kali telah diketahui alur ceritanya, sulit untuk mengundang kembali sebagai pengunjung selain meluaskan jangkuan pengunjung blog kita. Maka jika untuk mendapatkan banyak pengunjung, pelajarinya teknik seo-an dan riset kata kunci apa yang trend di pasaran. Pun itu berlaku juga untuk mendapatkan uang dari blog entah dengan space iklan yang ditawarkan ataupun menjadi bloger review

Lalu kenapa tidak mengisinya kembali dengan jurnal-jurnal ilmiah jika mudah  mendatangkan banyak pengunjung? Kembali kepada pertanyaan, kita menulis untuk apa?
Sejujurnya, mempostingan artikel dan jurnal -jurnal tadi lebih untuk mengabadikan moment saat masa-masa ngampus dulu, bukan hanya potret diri saja yang bisa terabadikan, tapi masa njelimet dengan tumpukan tugas pun bisa banget di abadikan. Kan lumayan nyambil ngerjain tugas sembari mengisi blog, kata pribahasa sambil berenang minum air kemudian tenggelam, eh. Itu alasan dibalik bertahannya saya dari domain gratisan ini, padahal mah menyesuaikan budget wkwkwk *sundanisModeOn

Nah, setiap kita memiliki passionnya. Menjadi penulis pun ada spesialisasinya, passion tulisanmu dimana? Jika belum ditemukan, perbanyak buku bacaan. Nah iya, kalau untuk menjadi seorang pembaca jadilah seorang yang general, baca apapun jenis perbuku-an bahkan seandainya kamu seorang magister atau doktor ekonomi bacalah buku kedokteran, siapa tahu nemu formula untuk mengobati penyempitan pembuluh dompet wkwkwk. Terus gali sampai akhirnya kamu yakin tulisanmu yang gue banget tuh disina bukan disini hehe.


Seorang penulis berbagi tentang resepnya untuk memulai menulis, dari 3D. Apa yang dikuasai, apa yang disukai dan apa yang dipelajari. Silahkan bedah bidang-bidang apa yang kita kuasai, disukai juga sedang dipelajari. Ini akan sangat berguna untuk inspirasi tulisan-tulisan kita kelak. Kita sudah sangat familiar dengan kalimat bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, pun dengan minat yang mengalahkan bakat. Itu artinya banyak jalan menuju penulis. Mainkan saja penamu, tugasmu taat bukan?




Dispersepsi Jomblo, Singlelilah dan Nikah Dalam Dakwah

Dispersepsi Jomblo, Singlelilah dan Nikah Dalam Dakwah


Kali ini dibuat manggut-manggut, turut merasakan, iya. sama aku pun pernah merasakan..
Dalam forum udara pegiat literasi, ada yang mengeluhkan. Bait racikan hasilnya, seolah hanya dipersepsi dengan status kesendirian, atau nuansa hati yang sedang dilema. Dalam arti bahasa gaul, mereka yang berpuisi ria seolah sedang galau.
Andai bisa dimengerti,  racikan kata tanpa dramatisasi kalimat seumpama sayur tanpa garam. Sampai seorang teman berujar, "Jangan memposting melodi-melodi sendu jika kamu seorang jomblo" begitulah nasib jadi jomblo akan selalu dipersepsi rentan terkena infeksi virus andilau ( antara dilema dan galau), padahal dengan menikah bahkan kematian masalah tidak mungkin pernah selesai, soal postingan melodi, kita tak pernah tahu arti yang sebenarnya, sejatinya selalu ada konteks dibalik teks,  dan selalu ada makna yang tersirat dibalik yang tersurat.

Lain kasus, sebuah artikel memancing perhatian. Katanya fenomena aktifis dakwah hari ini seolah hanya berkutat pada singelillah, nikah ya begitulah. ..
Hmmm... bukan karena membela rekan jomblo sejawat, dibalik kesendirian seseorang kita tak pernah tahu ada banyak insan yang menikmati masanya berhahahhihihehheh menjadikan tema untuk memancing punch line yang gerrrrr berantakan, pembuka sapa juga tawa dalam mencairkan suasana. Nyatanya jomblo tak semerana itu kawan..

Selanjutnya, bukan tururt memboomingkan dakwah yang katanya garis halus, sekedar kampanye anti pacaran, singelillah, nikah ya sudahlah.. Fyi, pemuda katakanlah usia maba yang sedikit lebih dewasa dari usia SMA untuk bisa menanggung beban, hari ini didominasi oleh generasi milenia kelahiran tahun 2000-an, bahasa ilmiah lainnya mengkatagorikan generasi Z, jika sedikit mengupas karakter dari generasi Z ini, mereka adalah generasi yang terbiasa dengan gadget, kabar buruknya saking terbiasa dimudahkan dengan arus informasi mereka tidak terbiasa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang merepotkan, bisa di bayangkan kehidupan generasi Z yang terlahir pada fase kemudahan informasi dan kemajuan iptek. Bersekolah, tugas ini-itu tinggal googling, ingin ini-ingin itu tinggal main jempol. Kita (setidaknya saya) leluhur generasi Z, setidaknya pernah merasakan zaman, bersekolah mengerjakan PR saat imformasi yang dicari tak ada dalam buku ataupun lks, yang dilakukan mencari sumber lainnya bisa ke perpus atau bertanya pada kakak kelas, bahkan sebelum Hp mendunia untuk berkabar ria pun, ada usaha kaki untuk berjalan menemukan wartel untuk bisa bersapa mengudara.

Sangat dimaklumi, jika karakter dari generasi Z ini lebih menyukai hal-hal yang have funny, nongki-nongki cantik di cafe-cafe, asyik berselancar di dunia maia. Itu artinya harus ada pula formalasi yang sesuai dengan kondisi kekinian. Jika kita tidak ikut berkecimpung di dalam dunia mereka, manabisa kita menarik mereka untuk bijak dalam internet misalnya. Dan hari ini tema yang  bisa diterima oleh semua kalangan masih ditempati oleh tema jomblo, memang tema jomblo ini juara bertahan yang tak tergeserkan sepanjang zaman. Coba tengok postingan kang Emil, gaya tuturnya selalu membawa kaum jomblo, bandingkan dengan postingan dia yang serius (politik) jumlah likesnya jauh menurun ketimbang postingannya yang berkawan dengan kaum jomblo.

Bukan pemakluman, karena memang tak tak dipungkiri fenomena hari ini aktifitas dakwah riuh ramai dengan syiar kampanye anti pacaran, hanya jika itu menjadi wasilah untuk mencerahkan bahkan mengetuk pintu-pintu keberkahan dalam menyongsong peradaban dengan bonus pundak-pundak mereka kemudian menguat dalam barisan, salahkah?