Polemik Pajak Profesi Penulis

Indonesia masih mengandalkan pajak sebagai sumber pendapatan negara. Dan saat ini, sektor pajaklah yang menjadi sumber pendapatan tertinggi, berbeda dengan negara maju  yang menjadikan sektor perdagangan sebagai sumber pendapatan tertingginya.
Sehingga tak aneh, jika kewajiban membayar pajak tidak bisa lepas dari setiap dimensi masyarakat kita.Salah satu sumber pajak negara adalah pajak perbukuan.

Di tengah dunia literasi Indonesia yang sedang berbenah, isu ini kembali mencuat pada tahun 2017.  Setelah Tere Liye, salah satu penulis yang cukup kondang di negeri ini, memutuskan kontrak dengan dua penerbit besar, yaitu Gramedia Pustaka Utama dan Republika Penerbit, beberapa waktu lalu.
Masalah pajak perbukuan, khususnya pajak penulis, menurut Tere Liye, adalah ketidakadilan pajak yang mencekik profesi penulis.

Pajak penulis dianggap lebih tinggi dari pajak profesi lainnya, Tere Liye mencontohkan perhitungan pajak, jika royalti penulis dari penerbit buku mencapai 1 miliar. Sekitar 245 juta rupiah atau 24,5% harus disetor sebagai pajak, hal tersebut dianggapnya sebagai ketidakadilan pajak yang mencekik profesi penulis. Penulis buku membayar pajak 24 kali dibanding pengusaha UMKM, dan dua kali lebih dibanding profesi bebas.

Merespon keluhan itu, Humas Ditjen Pajak, Hestu Yoga Seksama, mengklarifikasi bahwa pada prinsipnya semua jenis penghasilan yang diterima dari semua sumber, dikenakan pajak sesuai perundang-undangan yang berlaku. Artinya semua sudah menjunjung tinggi asas-asas perpajakan yang baik, termasuk asas keadilan dan kesederhanaan.

Ditambahkan beliau, penulis dengan penghasilan bruto kurang dari 4,8 miliar dalam setahun, dapat memilih untuk menghitung penghasilan bersihnya dengan berdasar Norma Penghitungan Penghasilan Neto (NPPN) besarnya 50% dari royalti yang diterima dari penerbit.

Namun hal itu, dibantah Dee Lestari, penulis yang tak asing lagi di kalangan pembaca negeri ini. Menurutnya, beberapa penulis yang melaporkan pajak royalti berdasar norma tersebut, justru ditolak kantor pajak dengan alasan NPPN hanya bisa dipakai untuk pendapatan non royalti padahal pendapatan utama seorang penulis adalah royaltinya.

Dee menilai akar masalah dari pajak penulis ini, adalah royalti dianggap penghasilan pasif. Karena penulis tidak perlu keluar modal, kecuali menerbitkan buku karyanya sendiri, penulis akan dianggap mengeluarkan modal.

Tak hanya mengkritik, Dee juga mengusulkan, jika royalti sebagai penghasilan pasif,  semestinya diberlakukan pajak pemasukan pasif. Artinya tak ada lagi pajak setelah pemotongan dari pihak penerbit. Dan jika royalti dipertimbangkan sebagai penghasilan aktif, maka semestinya dikenakan norma pada seluruh pendapatan penulis tanpa terkecuali.

"Pilihan pertama lebih menggairahkan bagi saya. Bayangkan, jika para kreator diberi keleluasaan seperti itu, negara benar-benar dapat menghadirkan atmosfer kondusif bagi para penemu dan insan kreatif yang2 pekerjaannya mencipta, termasuk penulis," lanjutnya.

Pilihan lain kemudian muncul di era digitalisasi saat ini, banyak penulis yang kemudian memilih untuk menerbitkan bukunya sendiri atau menjual secara daring. Meski ada pergeseran kebiasaan membaca tapi tren ini tidak terlalu signifikan, pasalnya mayoritas masyarakat Indonesia masih memilih membaca buku secara fisik ketimbang versi digital.

Menanggapi persoalan tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meminta Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak untuk mencari tahu duduk persoalan yang menyebabkan Tere Liye dan beberapa penulis lain keberatan atas pajak yang harus dibayarkannya.

Pernyataan penulis Tere Liye untuk menerbitkan bukunya kembali setelah beberapa waktu lalu menyatakan mundur dari dunia perbukuan tanah air, yang diunggah melalui akun Fanpage Facebook-nya, pada tanggal 4 April 2018, menunjukkan ada perubahan yang baik dalam peraturan pajak untuk penulis. Maka menerbitkan buku awal Juni 2018, adalah bentuk apresiasi Tere Liye kepada keputusan pemerintah dalam perubahan peraturan pajak profesi penulis.

Pajak perbukuan bukan hanya menyangkut profesi penulis, ada industri di dalamnya, penerbitan, percetakan kertas, toko buku, karyawan- karyawan di lingkungan tersebut dan sebagainya, ada banyak pekerjaan rumah, bagi sistem literasi Indonesia.
Namun perubahan ini, adalah langkah awal untuk terus mengembangkan dunia literasi Indonesia, dengan segala lika-likunya.

Sumber:
1.https://edukasi.kompas.com/read/2010/02/17/07453195/Tiras.dan.Royalti.Pokok.Masalah.Perbukuan
2. http://blog.mizanstore.com/melihat-kasus-pajak-penulis-dari-sisi-penerbit/
3. http://www.derereznotes.my.id/2017/09/gantung-pena-nya-tere-liye-antara-hobi.html?m=1.
4. https://www.wanita.me/tere-liye-kembali-ke-dunia-perbukuan/
5. http://www.konfrontasi.com/content/opini/gagasan-penghapusan-pajak-perbukuan
Artikel ini dianggit pada tantangan kesepuluh #katahatiproduction

Disusun oleh:
1. Alleyah
2. R. Cipta Anugerah Persada
3. Resti Tri Herdiyanti
4. S. Ulfanitha



Sumber gambar :edunews

Almarhum Sebelum Tertulis di Batu Nisan






Data tak selalu berbicara tentang angka dan fakta. Baginya statistik dan grafik itu bukan lagi informasi sekelabat bayang saja, melainkan nyawa dari cerita. Mereka adalah deras perjuangan, air mata sendu dan semangat yang menggelora. Milka mengawalinya dari ketidaktahuan, kehilangan asa, dan cinta yang dalam.  Seorang broker yang bermula dari broken heart. Mereka menyebutnya pialang saham, yang piawai membaca saham dan investasi di pasar keuangan. Beberapa juga menyebutnya sebagai penjudi yang ulung, spekulan yang berdaulat dan terhormat.

Jarum jam telah membentuk  90 derajat, sementara Milka baru saja menutup laptopnya dan belum menutup mata seditik pun. Tubuhnya sudah meminta direbahkan sedari tadi tetapi pantang ia turutkan selama targetnya belum ia selesaikan. Milka ingin menebar manfaat bukan sekedar  komisi  atau gaji menggiurkan dari perusahan sekuritas yang menaunginya untuk setiap transaksi saham dan studi kelayakan bisnis yang ia buat tetapi  bagaimana memberikan indivasi secara berkala yang tidak menyesatkan investor dan melabrak aturan guna mendapat komisi setingi – tingginya.  Milka memandangi jagoan kecilnya, dia yang dulu tak bisa tidur tanpa dekapannya telah terbiasa tidur seorang diri, rasa bersalah itu menyeruak masuk mengusir kantuk yang daritadi menyerang.  Alif telah menjadi bocah periang meski tanpa sosok ayah, iya Milka adalah seorang Ibu sekaligus Ayah untuk Alif. Naasnya Milka harus merasakan kehilangan sebelum kehilangan itu benar – benar nyata. 

Pepatah bijak itu selalu benar mengabarkan, bahwa dibalik kisah sukses ada harga perjuangan yang harus ia bayar. Milka yang lugu dan polos itu telah bermetamorfosis menjadi Milka yang cerdas dan pintar membaca peluang. Milka yang dulu menjadi korban ketidaktahuan dan ketidakberdayaan telah menjadi Milka yang selalu diandal – andalkan. Dulu lugu dan polos itu bersatu padu menjadi kebodohan yang membawa Milka pada rumah kedua. Ia dia menjadi korban dari “mantan suaminya” yang membohongi dirinya, mengaku seorang pemuda perjaka padahal telah memiliki rumah pertama. Ah, betapa dia merasakan sekarang berharganya selembar kertas  absah sebagaimana berharganya satu lembar slot saham yang sering ia soroti. 

“Yang utama itu sakral dan sah, resepsi itu point belakangan” Ujarnya dulu begitu Naif.
“Dik, Mas begitu bangga dan tak akan pernah menyesal bersanding denganmu !” Jawaban yang berbalik tajam padanya, iya dia tak mungkin menyesal setelah mendapatkan rumah keduanya, tetapi Milka sesak dengan penyesalan yang tiada berkesudahan. 

 Apa kabar Ktp – El yang masih bisa di gandakan dan memalsukan status asli. Lengkap sudah Milka yang lugu itu terbodohi oleh cinta. Lalu karma kebodohan itu kemudian menghantui Milka, menggedor – gedor istananya sebagai seorang pelakor. Tanpa pernah ia bisa membela diri bahwa dia adalah korban yang sesungguhnya. Ternyata benar, wanita yang selalu menjadi korban yang paling dirugikan.   Sialnya, Alif bocah tak berdosa itu telah menanggung kesedihan sejak mulai ia dilahirkan. Dimata negara ia adalah anak yang tak memiliki ayah. Bukan, Milka bukan wanita pragmatis yang rela menjadi orang ketiga demi harta. Meski pernikahannya dicatatkan dan diakui oleh negara, Milka tak akan menggugat harta gono – gini dari mantan suaminya. Toh setelah ia menyandang status janda, tak seperak harta mantan suaminya yang ia bawa. Istana kedua itu pun ia tinggalkan hanya Alif harta bersamanya yang ia jaga. Iya itulah keinginan terbesarnya bahwa anaknya dimata negara memiliki ayah yang tertulis dalam kartu keluarga. Milka ingat akan celoteh polos Alif ketika pulang dari sekolah.


“Ma, teman – teman Alif nanya, kok di kartu keluarga Alif, gak ada nama papah sih? Oh iya Ma, papa itu siapa ? Alif kok gak pernah ketemu, nengokin Alif dalam mimpi  juga gak pernah “ Celoteh polos dari Alif

Seketika itu matanya berembun, mulitnya terkunci. Sepuluh menit kemudian Milka baru bisa menemukan jawaban, “ Papamu sudah Almarhum, Nak. !” Iya, baginya dia telah almarhum sebelum tertulis di batu nisan.

 #katahatichallenge
#katahatiProduction

Resensi Puisi Dia Yang Memunggungimu, Merasa dengan Meresapi




Sebuah puisi karya Khrisna Pabichara

 Dia yang Memunggungimu

Kita berada di pelukan yang sama. Aku memeluk lututku, kamu memeluk bayangnya. Kamu akan tenang meninggalkanku, aku pasti senang menunggalkanmu.

Kita berdiam di rumah yang sama. Aku di masa entahmu, kamu di masa lalunya. Kamu berbahagia dengan melupakanku, aku berbahagia dengan mengingatmu.

Kita tegak di jalan yang sama. Aku memandangi punggungmu, kamu menangisi punggungnya. Kamu mengandalkannya, aku mengandaikanmu.

Tantangan kali ini terasa berbeda, meresensi sebuah puisi. Iya puisi bukan novel atau sebuah buku. Bukan puluhan atau ratusan halaman yang kemudian disimpulkan intisari dengan ulasan kelebihan dan kekurangan. Tetapi puisi? Kata demi kata yang tak memiliki tafsir tunggal. Pengarang puisi sendiri yang lebih paham akan hakikat maksud yang ia tuliskan.  Tetapi sebuah karya, bahkan yang kontekstual sekalipun memiliki siratannya tersendiri. Maka sebagai sudut seorang pembaca yang kemudian menginterpretasi puisi tadi adalah tentang tokoh Aku yang mencintai dia yang mencintai orang lain.
Dia yang Memunggungimu, dari judul kepiluan itu terasa. Memunggungi yang bisa jadi mengabaikan. Pengabaian itu terasa dari bait pertama.
Kita berada di pelukan yang sama. Aku memeluk lututku, kamu memeluk bayangnya. Kamu akan tenang meninggalkanku, aku pasti senang menunggalkanmu.

Tokoh aku dan kamu yang bisa jadi ada dalam kebersamaan tetapi tiada ketersalingan. Tokoh aku yang setia mencintai sedang tokoh kamu yang akan dengan mudah melupakan.

Kita berdiam di rumah yang sama. Aku di masa entahmu, kamu di masa lalunya. Kamu berbahagia dengan melupakanku, aku berbahagia dengan mengingatmu .
Kali ini tentang tokoh aku dan kamu ada dalam  ruang yang sama tapi berbeda dimensi. Tokoh aku yang luput dari ingatan tokoh kamu dan tetap berbahagia dengah hanya memiliki rasa sepihak saja.
Kita tegak di jalan yang sama. Aku memandangi punggungmu, kamu menangisi punggungnya. Kamu mengandalkannya, aku mengandaikanmu.
Lalu pada bait terakhir diungkapkan bahwa mereka ada pada tempat yang sama dengan kondisi yang berbeda. Satu jiwa mencintai sedang yang dicintai mencintai yang lain.

Ulasan : Nuansa yang terasa saat membaca puisi tersebut terangkum dalam satu kata pilu.
Kelebihan : rima yang sederhana tapi mengena, diksi yang umum tapi mengesankan.
#katahatichallange
#katahatiproduction.

Rumah Ambigu


Pagi yang masih sama

Tanpa secangkir kopi yang harus kuhidangkan

Tanpa selembar koran yang harus kuberikan

Tanpa sapa yang saling menghangatkan

Hanya piring  berdenting menyanyikan lagu sepinya

Dan aku hanya menatap meja kosong ditemani secawan rindu.



Penghuni lain yang kerap menjadi tanya

Aku yang mesti pergi,

 Atau kamu yang akan datang?

Entahlah …



Rumah ambigu,

Disini aku mengukir penantian

Disana ada mungkin untuk rumah lain yang kau tuju

Lalu tentang bersama menjadi kita di belantara rumah ini

Adalah mungkin yang tak bisa ku pastikan.


Garut, 28 januari 2019


 Tantangan keempat,
 #katahatiChallenge
#katahatiProduction



Teka - Teki Sayang


Musim sedang tak menentu, hujan bisa bertamu di bulan Mei, panas terik matahari bisa menyinari September.  Anomali cuaca tak bisa terprediksi, ini adalah analogi yang tepat seperti lubuk fikiran Tian akan seorang pria yang sikapnya tak mudah ia  terka.  Buku psikologi itu tergeletak di atas meja, terhitung sudah lima bulan buku itu  ditangannya tetapi belum juga selesai dibaca oleh Tian. Sebuah buku yang merupakan pemberian dari seseorang yang sering menjadi objek untuk di terka perasaannya oleh tian.  Iya, Tian sendiri merasa bosan terjebak menjadi seorang detectif untuk sebuah misi dimana dia sendiri adalah clien-nya. Kini Alarm-nya berbunyi, pertanda panggilan tugas datang. Dan Tian tak pernah seantusias ini sebelumnya dalam menyelesikan projek, hanya satu alasan yang membuatnya semangat 45 dalam bekerja, dia.
“ Ti, ini draft rancangan yang aku buat. Aku minta masukan kamu yah, udah oke atau harus ada revisi?” Tanya Diman.
“Menurutku yah, point tentang usulan pemberdayaan bisnis untuk  napi itu bagus tapi kurang greget, kamu seharusnya menambahakan point studi kelayakan bisnisnya” jawab Tian
“Kamu serius amet sih Ti, kita itu bukan konsultan bisnis lho !” jawab Diman
“Jangan tangung – tanggung dong kalau ngasih jalan orang, jangan seremonial doang nolonginnya,  biar kerjanya berfaedah!”Cetus Tian
“Wah sekarang ucapanmu makin menukik yah,  aku jadi merasa seterdakwa itu dech. Padahal aku cuma memperiapkan diri  agar tidak sakit hati, sedih tahu kitanya mati – matian merjuangin mereka, eh merekanya malah antipati untuk memperjuangkan diri mereka sendiri  !”Timbal Diman
“Jangan pesimis gitu lah, domain kita kan ikhtiar. Masalah hasil kita serahkan aja sama Allah”! Jawab Tian
“Duh partnerku ini daebak bangetlah, udah baik, rajin menabung dan tidak sombong, kalau gitu studi kelayakan bisnisnya kamu yang tambahkan yah !” Ujar Diman
“Pujian anda modus sekali. Kalau niat ngasih perintah, to the point aja !” Jawab Tian.
######






Siang itu, Tian pun membereskan perintah yang datang atas usulnya.  Sesekali kelebat bayang pria itu muncul di layar laptopnya. Fikirannya tak bisa utuh untuk focus mengerjakan tugasnya. Dalam hal itulah, dia seringkali menyelisihi dirinya sendiri. Kenapa dia? Seseorang yang seumuran dengannya hanya terpaut 5 bulan kesenioran dia didunia  tetapi menjadi  junior atau adik  tingkat di kampus Tian dulu. Dan sekarang menjadi satu rekan kerja denganya, dan hal itu jelas menjadi alasan kenapa Tian menyanggah sendiri perasaannya itu, karena memang pria itu  tak masuk dalam daftar kriteria yang seringkali Tian cetuskan. Obrolan dengan Bahasa aku – kamu tadi menandakan kedekatan yang lebih terjalin erat, sebuah hubungan yang menguat seiring seringnya mereka berdebat.  Dan sudah menjadi lumrah, yang  menyaksikan seringnya Tian berdebat dengan sosok pria itu justru mengundang cie – cie efek, seisi kantor sibuk menggosipkan hubungan yang tidak jauh dari tikus dan kucing itu. Tanpa mereka fahami bahwa desas- desus yang mereka layangkan adalah pemantik munculnya riak – riak rasa di hati Tian. Karena sedari mengenal sosok pria itu dikampusnya dahulu, tak pernah ada perasaan sedikit pun. Tian merasa hadirnya perasaan itu seperti asap yang tak mungkin datang tanpa undangan api. Apinya bisa jadi adalah debat – debat yang tak berfaedah itu, pemantik sumbunya adalah rekan – rekan kantor yang sering men-cie-cie-kan mereka berdua. Sesekali Tian acapkali merasa satu frekuensi denganya atas riak perasaan itu, hanya tak pernah ada konfirmasi kebenaran itu dari objeknya yang bersangkutan selain konfirmasi kecocokan menurut rekan -rekan kerja sekantornya.
“ Jadi Gimana?” Kali ini tanya dari Mira, sahabat dari zaman ketika Nokia merajai pasar Handphone sampai Samsung unggul karena Androidnya yang sekaligus rekan kerja Tian dan otomatis sangat hafal tentang kehidupan Tian.
“Tinggal aku revisi sedikit Mir, bentar lagi juga beres !” Jawab Tian
“Maksudku bukan itu, tapi dia?” Tanya Mira
“Dia siapa?” Polos Tian
“Tahu dah yang dianya banyak. Dia yang mana aja dah gue dukung. Mau Diman kek, mau Rudi kek, atau dia  dari pihak ketiga lainnya juga gue  dukung dah !” Cetus Mira
“ Sensor   dikit napa kalau ngomong?” Sergah Tian
“Sory, sory keceplosan hehe”.



 ####

Tian mengerti tentang muara dia yang tadi pertanyakan oleh sahabatnya. Usia Tia kini menginjak 25 bilangan ganjil yang masuk dalam kaidah umum untuk segera di genapkan. Tentang dia yang menjadi pertanyaan Mira tadi adalah hal yang juga dipertanyakan juga olehnya. Kali tadi, Mira yang sempat menyebut sosok pria bernama Rudi. Tian yang hanya mengenali sosok itu sebagai kakak tingkatnya dulu,  tak banyak hal yang ia kenal darinya, karena saat dia menjadi maba, Rudi telah dinyatakan lulus sebagai mahasiswa.
Tian hanya bertegur sapa dengan sosok itu saat projeknya berkerjasama dengan perusahaan dimana Rudi berkerja. Dan dari perantara Mira sahabatnya itu, Tian mendapatkan informasi bahwa Rudi menaruh hati pada Tian dan berkeinginan untuk melangkah ke arah serius  bersamanya. Hanya Rudi meminta komfirmasi perasaan Tian kepada Rudi melalui Mira. Jika gayung tersambut, tak menunggu lama, diminta detik itu juga Rudi akan bergegas mendatangi kediaman Tian.  Sementara Tian, terus mengulur- ngulur, tanpa memberi aba- aba mengiyakan atau menolak. Tian berlindung dibalik kata, lelaki harus siap dengan segala koensekuensi. Jangan hanya melangkah karena searah, jika benar miliki niat dan kesungguhan, buktikan. Mira acapkali mempertanyakan, adakah itu alibi karena bisajadi kecendrungan Tian lebih dominan kepada Diman atau Tian memang benar – benar mengingikan bukti kesungguhan? Sedang sementara jikapun Rudi memperlihatkan kesungguhan, Tian belum tentu akan memberikan kepastian akan menerimanya, belum tentu Tian mau dan nyaman dengan perlakuan yang itu adalah bukti Rudi ingin serius dengannya. Karena Mira hafal watak Tian, yang cendrung anti relationship dan nyaris tak pernah menjalin hubungan yang namanya pacaran. Dan Tian pun kini dihadapkan dengan orang - orang yang serupa pula dengannya. Baik Rudi ataupun Diman tak punya record sebagai lelaki yang pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis. Tiba – tiba dering handphone Tian berbunyi, kali ini dari Rudi. Obrolan pun mengudara.
“Assalamu’alaikum Tian, apa kabar?”
“Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah baik kak, ada apa yah kak?” Timpal balik yang disesali oleh Tian, pertanyaan ada apa seperti mengindikasikan bahwa seseorang itu bisa berkomunikasi jika memiliki keperluan.
“Hmm, jadi gini, hhmmmm… Kakak kan punya adek ini, kamu bisa ngasih privat gak buat dia?”
“Privat apa kak, duh Tian gak Expert kalau ngasih privat gituan!” Rendah tian
“Privat Akuntansi, atau mapel lainnya. Kakak percaya lah sama kamu Ti, secara lulusan comloude !
“Eh seriusan kak, Tian gak Expert apalagi ditambah mapel lain. Kenapa engga di masuk-in ke Lembaga privat aja, lagian kata siapa aku comloude, hoak itu !” sergah Tian.
“Hmmm…jadi hmmm  …Anaknya gak mau kalau masuk Lembaga privat, Terus kamu itu emang dulunya comlude, kakak tahu itu “



“Kenapa gak mau masuk Lembaga privat kak? Eh itu siapa sih yang nyebarin berita hoak?”
“Adenya, hmmm belum nemu Lembaga privat yang cocok…Suara lain muncul mengudara dan terdengar oleh Tian “ Kata siapa?”Suara anak perempuan yang diprediksikan Tian adik  Rudi. Kemudian, sedetik kemudian Rudi pun melanjutkan, “ Jadi gimana Ti, kamu gak bisa aja nih?” setelah jawaban sama keluar, sambungan telepon pun berhenti.
#####
Seperti kebiasaannya yang sudah mafhum, makan siang ini Tian habiskan dengan bercerita tentang telepon Rudi untuk permintaan privat itu kepada sahabat karibnya, siapa lagi kalau bukan Mira. Tak peduli makanan yang dipesan telah habis,pun  tak peduli dengan jam istirahat kantor siang yang telah berakhir, ada keleluasan tempat dimana mereka bekerja, jika proyek selesai ritme kerja pun bisa senggang. Menjadikan Tian pun asyik bercengkrama Bersama Mira dan tak bergegas dari café tempat hangout mereka. Beberapa kali Mira meyakinkan bahkwa tindakan Rudi bukan semata sedang mencari guru les privat melainkan bentuk usaha pendekatan kepadanya, dan itu adalah satu hal yang pernah diminta olehnya, tentang usaha bahkan sebelum kunci jawaban iya atau tidak didapatkan. Meski benar pula, yang di sangsikan oleh Mira. Tipikal Tian tidak akan nyaman didekati by design seperti permintaan privat yang ketahuan “di-ada-adakan” itu.
“Jadi sekarang keputusanmu gimana, mau menunggu kepastian dari dia atau memberi kepastian kepada dia  apapun jawabannya?” Tanya Mira
“Entahlah, Mir    !” Desah Tian
“Aku tahu kamu sepertinya menunggu kepastian dia, yekan? Baiklah, aku sepertinya harus turun tangan membantumu  ”Ucap Mira
Wajah kebingungan Tian makin nampak, Tian memberikan kode untuk tidak melakukan hal aneh  pun tidak digubris oleh Mira, dia beranjak meninggalkan kursinya sembari berkata “ Tenang, namamu aman . aku jamin, Bye   !”

^^^^




Tanpa basa - basi dan pengantar apapun, Mira membuka obrolan kepada Diman tanpa merasa bersalah sedikit pun. “Di, punya niat gak sih sama Tian?”
“Niat apa? Niat mensukseskan setiap proyek, punyalah !” jawab Diman dengan polosnya.
“Jangan so naiflah, seriusan gue nanya punya niat serius gak sama Tian, gue sebagai sahabatnya ngedukung kalau loe beneran jadi sama dia. Tapi, kalau loe emang gak punya niat sama doi, gue mau  jadi timses untuk orang lain. Asal lo tahu, ada orang lain dan clue-nya dia baik punya niat serius sama Tian. Kalau lo gak mau kesalip atau jadi tamu undangan, mening buruan beraksi kecuali emang lo samasekali gak punya niat ke arah itu !”. 
“Banyak hal yang harus aku persiapkan dan pertimbangkan , menikah gak semudah itu Esmeralda !”
“Nunggu siap itu kapan siap nya Ferguso, pertimbangan apa? Atau jangan – jangan memang lo gak punya niat yah sama Tian ?”
“Aku masih harus selesai dengan diriku sendiri dan juga memastikan atas perasaanku sendiri, Mir !”
“Fiks, lo jangan nyesel yah kalau jadi tamu undangan !”
####
Tian berulang kali membaca  WA yang ia terima dari Rudi, dari pesan yang diterimanya. Rudi mengakui bahwa permintaan guru privat itu hanya alasan klise untuk sebuah pendekatan, agar tak mengulangi rasa pecundang itu pada akhirnya desas – desus bahwa Rudi menaruh hati padanya dikonfirmasi langsung oleh Rudi.  Dia menyatakan bahwa dia  memang menyukainya dan bukan sekedar suka melainkan berniat untuk meminangnya. Tian tak perlu menjawab pesan WhatsAppnya, apapun jawabannya akan siap ia terima secara langsung saat Rudi mengunjungi rumahnya tiga hari setelah pesan WA ini diterima olehnya.
Kali ini komfirmasi itu datang, bukan lagi desas – desus yang saling berseliweran itu. Meski bukan Diman, tapi entah mengapa untuk pertama kalinya  Tian merasa tersanjung dan bahagia atas pernyataan Rudi. Atas rasa yang ia definisikan terhadap Diman, atas rasa haru dari kejujuran Rudi, Tian muarakan peraduannya pada Rabb- nya.
Entah mendapat angin darimana Tian tergerak untuk menyelesaikan buku psikologis, pemberian Diman itu. Bukan, bukan karena Tian terasuki kembali oleh bayangan Diman. Kali ini murni karena Tian ingin mencari konten psikologi dari buku tersebut. Lambat laun Tian pun membuka lembar demi lembar buku tersebut. Saat sampai di sub bab tentang ilusi rasa, Tian begitu menikmati dan meresapi isi dari buku tersebut, buku yang membawanya berani untuk menyimpulkan bahwa rasa yang ia terjemahkan pada Diman, bisa jadi hanya sekedar ilusi. Ada, karena ditumbuhkan dan tak ada rasa yang datang dengan sendirinya, ia merupakan rangkaian keputusan dari insan yang mengelola rasa itu sendiri. Jika demikian, Tian pun besar sangat mungkin bisa membuat keputusan untuk mencintai Rudi. Setidaknya Tian memiliki alasan untuk memutuskan mencintai Rudi dengan kejujuran dan keberaniannya.  Dengan hari mendekati kedatangan rudi, kemantapan hati itu semakin terkuatkan. Sampai pada moment ayah Tian menyerahkan jawaban sepenuhnya kepadanya, anggukan kepala sebagai penerimaan pun didapatkan oleh Rudi, satu hal diluar estimasinya. Padahal yang terbayangkan oleh Rudi adalah penolakan, sempat terfikir untuk membatalkan kedatangannya, hanya dia berpegangan pada ucapannya sendiri. Seorang pria adalah ia yang memegang kata – katanya.
Kabar itu pun sampai pada Mira, sahabatnya. Mira langsung mengkomfirmasi kabar itu dengan mendatangi Tian, seperti depkoletor yang menagih seseorang untuk bercerita terus terang sebagai pembayaran hutang. Setelah Mira mendapatkan yang ia mau, kali ini giliran Mira menyampaikan hal yang kLunch dari pertemuan secara langsung itu. Dan ternyata ada kelanjutan komfirmasi yang Diman berikan kepadanya melalui WhatsApp, niat keseriusan itu memang belum ada, pertama karena dia merasa belum siap untuk melangkah serius ke jenjang pernikahan dan yang kedua prihal rasa, bahwa bukan Tian yang ada dalam hatinya melainkan dirinya sendiri. Iya, ternyata Diman menyukai Mira. Dari penuturannya Diman memang sempat merasa menyukai Tian, tapi ragu atas perasaannya sendiri karena bisa jadi terbawa suasana dengan seringnya rekan kerja mereka yang men-cie-cie-kan.

Kemarin berusaha ditutupinya dengan perjanjian awal bahwa apapun yang ia sampaikan tak boleh menggangu keputusan Tian ataupun berbalik memusuhi entah Diman ataupun dirinya. Ia menceritakan prihal saat dirinya meminta komfirmasi perasaan Diman untuk Tian. Mira mereka ulang pertanyaan dan jawaban pasca
“Ti, jangan kecewa yah dengan apa yang aku sampaikan, semoga kamu selalu berbahagia selalu dan tidak membenciku!”
“Selow sis selow, never mind. Aku sekarang bahagia dengan keputusanku.  Mana bisa sih aku membencimu. Justru jika kau pun menyimpan rasa yang sama, jangan ragu untuk meyakinkannya biar kita nikahnya barengan wkwkwkw “ Canda Tian menggoda Mira
“Pernah kefikiran punya rasa sama si Diman juga gak pernah, kaget sendiri dengar dia punya rasa, mungkin kejedor kali kepalanya sampai bisa korslet begitu wkwkwk !”
“Jangan gitu Mir, aku juga gitu tadinya. Tapi sekarang entah punya keyakinan darimana kalau kita berrdua saling mencintai wkwkwk !”Timbal Tian.
Teka – teki sayang itu akhirnya terpecahkan. Bahwa rasa menyanyangi, rasa mencintai adalah rangkaian dari keputusan untuk menyanyangi. Iya, karena cinta adalah keputusan.