Teka - Teki Sayang


Musim sedang tak menentu, hujan bisa bertamu di bulan Mei, panas terik matahari bisa menyinari September.  Anomali cuaca tak bisa terprediksi, ini adalah analogi yang tepat seperti lubuk fikiran Tian akan seorang pria yang sikapnya tak mudah ia  terka.  Buku psikologi itu tergeletak di atas meja, terhitung sudah lima bulan buku itu  ditangannya tetapi belum juga selesai dibaca oleh Tian. Sebuah buku yang merupakan pemberian dari seseorang yang sering menjadi objek untuk di terka perasaannya oleh tian.  Iya, Tian sendiri merasa bosan terjebak menjadi seorang detectif untuk sebuah misi dimana dia sendiri adalah clien-nya. Kini Alarm-nya berbunyi, pertanda panggilan tugas datang. Dan Tian tak pernah seantusias ini sebelumnya dalam menyelesikan projek, hanya satu alasan yang membuatnya semangat 45 dalam bekerja, dia.
“ Ti, ini draft rancangan yang aku buat. Aku minta masukan kamu yah, udah oke atau harus ada revisi?” Tanya Diman.
“Menurutku yah, point tentang usulan pemberdayaan bisnis untuk  napi itu bagus tapi kurang greget, kamu seharusnya menambahakan point studi kelayakan bisnisnya” jawab Tian
“Kamu serius amet sih Ti, kita itu bukan konsultan bisnis lho !” jawab Diman
“Jangan tangung – tanggung dong kalau ngasih jalan orang, jangan seremonial doang nolonginnya,  biar kerjanya berfaedah!”Cetus Tian
“Wah sekarang ucapanmu makin menukik yah,  aku jadi merasa seterdakwa itu dech. Padahal aku cuma memperiapkan diri  agar tidak sakit hati, sedih tahu kitanya mati – matian merjuangin mereka, eh merekanya malah antipati untuk memperjuangkan diri mereka sendiri  !”Timbal Diman
“Jangan pesimis gitu lah, domain kita kan ikhtiar. Masalah hasil kita serahkan aja sama Allah”! Jawab Tian
“Duh partnerku ini daebak bangetlah, udah baik, rajin menabung dan tidak sombong, kalau gitu studi kelayakan bisnisnya kamu yang tambahkan yah !” Ujar Diman
“Pujian anda modus sekali. Kalau niat ngasih perintah, to the point aja !” Jawab Tian.
######






Siang itu, Tian pun membereskan perintah yang datang atas usulnya.  Sesekali kelebat bayang pria itu muncul di layar laptopnya. Fikirannya tak bisa utuh untuk focus mengerjakan tugasnya. Dalam hal itulah, dia seringkali menyelisihi dirinya sendiri. Kenapa dia? Seseorang yang seumuran dengannya hanya terpaut 5 bulan kesenioran dia didunia  tetapi menjadi  junior atau adik  tingkat di kampus Tian dulu. Dan sekarang menjadi satu rekan kerja denganya, dan hal itu jelas menjadi alasan kenapa Tian menyanggah sendiri perasaannya itu, karena memang pria itu  tak masuk dalam daftar kriteria yang seringkali Tian cetuskan. Obrolan dengan Bahasa aku – kamu tadi menandakan kedekatan yang lebih terjalin erat, sebuah hubungan yang menguat seiring seringnya mereka berdebat.  Dan sudah menjadi lumrah, yang  menyaksikan seringnya Tian berdebat dengan sosok pria itu justru mengundang cie – cie efek, seisi kantor sibuk menggosipkan hubungan yang tidak jauh dari tikus dan kucing itu. Tanpa mereka fahami bahwa desas- desus yang mereka layangkan adalah pemantik munculnya riak – riak rasa di hati Tian. Karena sedari mengenal sosok pria itu dikampusnya dahulu, tak pernah ada perasaan sedikit pun. Tian merasa hadirnya perasaan itu seperti asap yang tak mungkin datang tanpa undangan api. Apinya bisa jadi adalah debat – debat yang tak berfaedah itu, pemantik sumbunya adalah rekan – rekan kantor yang sering men-cie-cie-kan mereka berdua. Sesekali Tian acapkali merasa satu frekuensi denganya atas riak perasaan itu, hanya tak pernah ada konfirmasi kebenaran itu dari objeknya yang bersangkutan selain konfirmasi kecocokan menurut rekan -rekan kerja sekantornya.
“ Jadi Gimana?” Kali ini tanya dari Mira, sahabat dari zaman ketika Nokia merajai pasar Handphone sampai Samsung unggul karena Androidnya yang sekaligus rekan kerja Tian dan otomatis sangat hafal tentang kehidupan Tian.
“Tinggal aku revisi sedikit Mir, bentar lagi juga beres !” Jawab Tian
“Maksudku bukan itu, tapi dia?” Tanya Mira
“Dia siapa?” Polos Tian
“Tahu dah yang dianya banyak. Dia yang mana aja dah gue dukung. Mau Diman kek, mau Rudi kek, atau dia  dari pihak ketiga lainnya juga gue  dukung dah !” Cetus Mira
“ Sensor   dikit napa kalau ngomong?” Sergah Tian
“Sory, sory keceplosan hehe”.



 ####

Tian mengerti tentang muara dia yang tadi pertanyakan oleh sahabatnya. Usia Tia kini menginjak 25 bilangan ganjil yang masuk dalam kaidah umum untuk segera di genapkan. Tentang dia yang menjadi pertanyaan Mira tadi adalah hal yang juga dipertanyakan juga olehnya. Kali tadi, Mira yang sempat menyebut sosok pria bernama Rudi. Tian yang hanya mengenali sosok itu sebagai kakak tingkatnya dulu,  tak banyak hal yang ia kenal darinya, karena saat dia menjadi maba, Rudi telah dinyatakan lulus sebagai mahasiswa.
Tian hanya bertegur sapa dengan sosok itu saat projeknya berkerjasama dengan perusahaan dimana Rudi berkerja. Dan dari perantara Mira sahabatnya itu, Tian mendapatkan informasi bahwa Rudi menaruh hati pada Tian dan berkeinginan untuk melangkah ke arah serius  bersamanya. Hanya Rudi meminta komfirmasi perasaan Tian kepada Rudi melalui Mira. Jika gayung tersambut, tak menunggu lama, diminta detik itu juga Rudi akan bergegas mendatangi kediaman Tian.  Sementara Tian, terus mengulur- ngulur, tanpa memberi aba- aba mengiyakan atau menolak. Tian berlindung dibalik kata, lelaki harus siap dengan segala koensekuensi. Jangan hanya melangkah karena searah, jika benar miliki niat dan kesungguhan, buktikan. Mira acapkali mempertanyakan, adakah itu alibi karena bisajadi kecendrungan Tian lebih dominan kepada Diman atau Tian memang benar – benar mengingikan bukti kesungguhan? Sedang sementara jikapun Rudi memperlihatkan kesungguhan, Tian belum tentu akan memberikan kepastian akan menerimanya, belum tentu Tian mau dan nyaman dengan perlakuan yang itu adalah bukti Rudi ingin serius dengannya. Karena Mira hafal watak Tian, yang cendrung anti relationship dan nyaris tak pernah menjalin hubungan yang namanya pacaran. Dan Tian pun kini dihadapkan dengan orang - orang yang serupa pula dengannya. Baik Rudi ataupun Diman tak punya record sebagai lelaki yang pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis. Tiba – tiba dering handphone Tian berbunyi, kali ini dari Rudi. Obrolan pun mengudara.
“Assalamu’alaikum Tian, apa kabar?”
“Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah baik kak, ada apa yah kak?” Timpal balik yang disesali oleh Tian, pertanyaan ada apa seperti mengindikasikan bahwa seseorang itu bisa berkomunikasi jika memiliki keperluan.
“Hmm, jadi gini, hhmmmm… Kakak kan punya adek ini, kamu bisa ngasih privat gak buat dia?”
“Privat apa kak, duh Tian gak Expert kalau ngasih privat gituan!” Rendah tian
“Privat Akuntansi, atau mapel lainnya. Kakak percaya lah sama kamu Ti, secara lulusan comloude !
“Eh seriusan kak, Tian gak Expert apalagi ditambah mapel lain. Kenapa engga di masuk-in ke Lembaga privat aja, lagian kata siapa aku comloude, hoak itu !” sergah Tian.
“Hmmm…jadi hmmm  …Anaknya gak mau kalau masuk Lembaga privat, Terus kamu itu emang dulunya comlude, kakak tahu itu “



“Kenapa gak mau masuk Lembaga privat kak? Eh itu siapa sih yang nyebarin berita hoak?”
“Adenya, hmmm belum nemu Lembaga privat yang cocok…Suara lain muncul mengudara dan terdengar oleh Tian “ Kata siapa?”Suara anak perempuan yang diprediksikan Tian adik  Rudi. Kemudian, sedetik kemudian Rudi pun melanjutkan, “ Jadi gimana Ti, kamu gak bisa aja nih?” setelah jawaban sama keluar, sambungan telepon pun berhenti.
#####
Seperti kebiasaannya yang sudah mafhum, makan siang ini Tian habiskan dengan bercerita tentang telepon Rudi untuk permintaan privat itu kepada sahabat karibnya, siapa lagi kalau bukan Mira. Tak peduli makanan yang dipesan telah habis,pun  tak peduli dengan jam istirahat kantor siang yang telah berakhir, ada keleluasan tempat dimana mereka bekerja, jika proyek selesai ritme kerja pun bisa senggang. Menjadikan Tian pun asyik bercengkrama Bersama Mira dan tak bergegas dari café tempat hangout mereka. Beberapa kali Mira meyakinkan bahkwa tindakan Rudi bukan semata sedang mencari guru les privat melainkan bentuk usaha pendekatan kepadanya, dan itu adalah satu hal yang pernah diminta olehnya, tentang usaha bahkan sebelum kunci jawaban iya atau tidak didapatkan. Meski benar pula, yang di sangsikan oleh Mira. Tipikal Tian tidak akan nyaman didekati by design seperti permintaan privat yang ketahuan “di-ada-adakan” itu.
“Jadi sekarang keputusanmu gimana, mau menunggu kepastian dari dia atau memberi kepastian kepada dia  apapun jawabannya?” Tanya Mira
“Entahlah, Mir    !” Desah Tian
“Aku tahu kamu sepertinya menunggu kepastian dia, yekan? Baiklah, aku sepertinya harus turun tangan membantumu  ”Ucap Mira
Wajah kebingungan Tian makin nampak, Tian memberikan kode untuk tidak melakukan hal aneh  pun tidak digubris oleh Mira, dia beranjak meninggalkan kursinya sembari berkata “ Tenang, namamu aman . aku jamin, Bye   !”

^^^^




Tanpa basa - basi dan pengantar apapun, Mira membuka obrolan kepada Diman tanpa merasa bersalah sedikit pun. “Di, punya niat gak sih sama Tian?”
“Niat apa? Niat mensukseskan setiap proyek, punyalah !” jawab Diman dengan polosnya.
“Jangan so naiflah, seriusan gue nanya punya niat serius gak sama Tian, gue sebagai sahabatnya ngedukung kalau loe beneran jadi sama dia. Tapi, kalau loe emang gak punya niat sama doi, gue mau  jadi timses untuk orang lain. Asal lo tahu, ada orang lain dan clue-nya dia baik punya niat serius sama Tian. Kalau lo gak mau kesalip atau jadi tamu undangan, mening buruan beraksi kecuali emang lo samasekali gak punya niat ke arah itu !”. 
“Banyak hal yang harus aku persiapkan dan pertimbangkan , menikah gak semudah itu Esmeralda !”
“Nunggu siap itu kapan siap nya Ferguso, pertimbangan apa? Atau jangan – jangan memang lo gak punya niat yah sama Tian ?”
“Aku masih harus selesai dengan diriku sendiri dan juga memastikan atas perasaanku sendiri, Mir !”
“Fiks, lo jangan nyesel yah kalau jadi tamu undangan !”
####
Tian berulang kali membaca  WA yang ia terima dari Rudi, dari pesan yang diterimanya. Rudi mengakui bahwa permintaan guru privat itu hanya alasan klise untuk sebuah pendekatan, agar tak mengulangi rasa pecundang itu pada akhirnya desas – desus bahwa Rudi menaruh hati padanya dikonfirmasi langsung oleh Rudi.  Dia menyatakan bahwa dia  memang menyukainya dan bukan sekedar suka melainkan berniat untuk meminangnya. Tian tak perlu menjawab pesan WhatsAppnya, apapun jawabannya akan siap ia terima secara langsung saat Rudi mengunjungi rumahnya tiga hari setelah pesan WA ini diterima olehnya.
Kali ini komfirmasi itu datang, bukan lagi desas – desus yang saling berseliweran itu. Meski bukan Diman, tapi entah mengapa untuk pertama kalinya  Tian merasa tersanjung dan bahagia atas pernyataan Rudi. Atas rasa yang ia definisikan terhadap Diman, atas rasa haru dari kejujuran Rudi, Tian muarakan peraduannya pada Rabb- nya.
Entah mendapat angin darimana Tian tergerak untuk menyelesaikan buku psikologis, pemberian Diman itu. Bukan, bukan karena Tian terasuki kembali oleh bayangan Diman. Kali ini murni karena Tian ingin mencari konten psikologi dari buku tersebut. Lambat laun Tian pun membuka lembar demi lembar buku tersebut. Saat sampai di sub bab tentang ilusi rasa, Tian begitu menikmati dan meresapi isi dari buku tersebut, buku yang membawanya berani untuk menyimpulkan bahwa rasa yang ia terjemahkan pada Diman, bisa jadi hanya sekedar ilusi. Ada, karena ditumbuhkan dan tak ada rasa yang datang dengan sendirinya, ia merupakan rangkaian keputusan dari insan yang mengelola rasa itu sendiri. Jika demikian, Tian pun besar sangat mungkin bisa membuat keputusan untuk mencintai Rudi. Setidaknya Tian memiliki alasan untuk memutuskan mencintai Rudi dengan kejujuran dan keberaniannya.  Dengan hari mendekati kedatangan rudi, kemantapan hati itu semakin terkuatkan. Sampai pada moment ayah Tian menyerahkan jawaban sepenuhnya kepadanya, anggukan kepala sebagai penerimaan pun didapatkan oleh Rudi, satu hal diluar estimasinya. Padahal yang terbayangkan oleh Rudi adalah penolakan, sempat terfikir untuk membatalkan kedatangannya, hanya dia berpegangan pada ucapannya sendiri. Seorang pria adalah ia yang memegang kata – katanya.
Kabar itu pun sampai pada Mira, sahabatnya. Mira langsung mengkomfirmasi kabar itu dengan mendatangi Tian, seperti depkoletor yang menagih seseorang untuk bercerita terus terang sebagai pembayaran hutang. Setelah Mira mendapatkan yang ia mau, kali ini giliran Mira menyampaikan hal yang kLunch dari pertemuan secara langsung itu. Dan ternyata ada kelanjutan komfirmasi yang Diman berikan kepadanya melalui WhatsApp, niat keseriusan itu memang belum ada, pertama karena dia merasa belum siap untuk melangkah serius ke jenjang pernikahan dan yang kedua prihal rasa, bahwa bukan Tian yang ada dalam hatinya melainkan dirinya sendiri. Iya, ternyata Diman menyukai Mira. Dari penuturannya Diman memang sempat merasa menyukai Tian, tapi ragu atas perasaannya sendiri karena bisa jadi terbawa suasana dengan seringnya rekan kerja mereka yang men-cie-cie-kan.

Kemarin berusaha ditutupinya dengan perjanjian awal bahwa apapun yang ia sampaikan tak boleh menggangu keputusan Tian ataupun berbalik memusuhi entah Diman ataupun dirinya. Ia menceritakan prihal saat dirinya meminta komfirmasi perasaan Diman untuk Tian. Mira mereka ulang pertanyaan dan jawaban pasca
“Ti, jangan kecewa yah dengan apa yang aku sampaikan, semoga kamu selalu berbahagia selalu dan tidak membenciku!”
“Selow sis selow, never mind. Aku sekarang bahagia dengan keputusanku.  Mana bisa sih aku membencimu. Justru jika kau pun menyimpan rasa yang sama, jangan ragu untuk meyakinkannya biar kita nikahnya barengan wkwkwkw “ Canda Tian menggoda Mira
“Pernah kefikiran punya rasa sama si Diman juga gak pernah, kaget sendiri dengar dia punya rasa, mungkin kejedor kali kepalanya sampai bisa korslet begitu wkwkwk !”
“Jangan gitu Mir, aku juga gitu tadinya. Tapi sekarang entah punya keyakinan darimana kalau kita berrdua saling mencintai wkwkwk !”Timbal Tian.
Teka – teki sayang itu akhirnya terpecahkan. Bahwa rasa menyanyangi, rasa mencintai adalah rangkaian dari keputusan untuk menyanyangi. Iya, karena cinta adalah keputusan.

Review Fim Mile 22, Rahasia Dibalik Rahasia


Sebagai pengantar mungkin perlu disebutkan sebenarnya aku bukan pencinta film action laga hollywood, jadi review film ini benar – benar dari sudut pandang seorang rasa pencinta film action yang amatiran.  Hanya ketika melihat sesosok actor Indonesia  yang berhasil go Internasional dan tedorong genre laga yang selalu berhasil menampilkan out the box atau bisa mengangkat  hal – hal yang diluar pengamatan orang pada umumnya, alhasil film mile 22 ini menjadi satu keputusan untuk merefresh diri. 

Film ini diawali dengan misi penggerebekan satu rumah dari agen khusus Amerika, dengan permulaan yang langsung  mulai memasuki alur menegangkan dengan adegan fighting dari lima anggota team khusus yang diberi misi dengan durasi waktu yang pendek, dimana kehadiran dua wanita yang menjadi bagian dari team khusus ini mencuri perhatian. Juga plot awal ini sukses membuatku terkesima dengan kecanggihan teknologi yang dimiliki team khusus Amerika ini. Pola komunikasi dan koordinasi antara team khusus yang langsung berhubungan dengan objek target sasaran dengan pusat suara atau markas pimpinan mereka yang memandu dan memberi intruksi kepada team khusus yang sedang mengeksekusi target sasaran. Pada adegan ini juga, aku berhasil melihat sisi humanis dari etika perang dimana rencana awal team khusus ini untuk menangkap target sasaran menjadi membunuh target  sasaran dikarenakan ada  hal diluar dugaan team khusus ini dan perlawanan dari target sasaran,  disana diperlihatkan ketika mereka hendak mengeksekusi untuk membunuh target, team khusus  sesegara mengkomfirmasi kepada markas dan meminta persetujuan, dan di bagian akhir film pun akan diperlihatkan ketika seorang anggota team khusus yang bernama Elicce terjebak dan harus memasuki apartement seorang warga sipil. Dalam keadaan terdesak, disana selain dia harus menyelamatkan diri sendiri pun ia tak luput memberikan keamaan kapada seorang anak yang terancam bahaya  karena Elice masuki wilayahnya . Hal ini bertolakbelakang dari percakapan antara para tokoh  dan sciene berikutnya  yang memperlihatkan bahwa team khusus ini dengan tugas yang diembannya menjadikan mereka kebal aturan dan tanpa batasan, melakukan apapun untuk suksesnya misi. 

Film ini pun mengisahkan tentang dunia para agen khusus yang berkerja dengan misi rahasia. Bekerja dengan menyampingkan segala urusan pribadi, sosok Ellice menjadi contoh tokoh yang mengalami dilematis antara sisi dia sebagai seorang ibu yang kehilangan waktu bersama anaknya dan agen khusus yang harus selalu focus dalam menjalankan misi. Sehingga ending dari film ini pun diluar dugaan, dimana iko Uwais atau Li Noor yang dikisahkan di film menyerahkan diri dan bersedia membantu team khusus Amerika untuk menjalankan misi dalam menemukan bubuk Cesium yang digadang – gadang mampu membumihanguskan 6 kota dengan keganasan melebihi Bom Hiroshima di Jepang. Sehingga kebanggaan tersendiri melihat actor Indonesia dalam film laga Internasional  yang menjadi sosok sentral dalam film tersebut, di film itu anda akan terpukau dengan debut Iko Wais dalam fighting, kemampuan bela diri dan kecerdasan strategi dia yang menyembunyikan misi pribadi dalam alur cerita film mile 22 ini yang ternyata pemain ganda sebagai seorang agen Rusia, di ending disebutkan dari sudut pandang pimpinan team khusus Amerika bahwa Li Noor ini ternyata seorang penjahat yang berwajah pahlawan.


Pesan yang tersurat dan tersirat dari Film ini adalah selalu ada rahasia dibalik rahasia sekalipun, dan era hari ini adalah abad peperangan terbaru, bukan sekedar fisik tetapi fikiran.  Dengan kecanggihan teknologi juga informasi  sebagai alat pendukung dalam penaklukan peperangan. Agar tidak terlalu panjang dalam memberikan bocoran atau spoiler film mile 22 ini, rasanya tidak salah jika anda menyempatkan untuk menonton film mile 22 ini, selamat menikmati, jangan kaget jika anda masih dibuat bertanya saat menonton film mile 22 ini karena film ini direncanakan akan menjadi sekuel dari trilogy selanjutnya.

Episode Belajar dari Para Pejuang Pilihan


Life Is choice, sebuah klausa yang sudah sangat dimafhumi oleh banyak orang. Memilih, dipilih dan terpilih adalah babak kelanjutan dari sebuah pilihan. Dan ada satu episode untuk menentukan pilihan yang ternyata tak sekedar  ya atau  tidak dan checklist or black list. Untuk kali ini penaku tertarik mengukir cerita dari para pejuang pilihan, para pejuang yang juga rangkap relawan alias rela melawan pilihan – pilihan atas episode hidupnya sendiri. Tersebutlah sebuah tugas negara yang dipikul oleh para pejuang pilihan untuk mensukseskan  pesta demokrasi, sebuah pesta  untuk menentukan pilihan dengan banyak drama. Sciene pertama bermula dari data, memperjuangkan hak para pengguna pilihan hingga para pejuang pilihan itu sendiri abai dengan pilihan hidupnya, kehilangan hak atas tidur nyenyaknya, merelakan hari merahnya untuk piknik dan terganti dengan panik. Terteror data dan menjadi makhluk gentayangan di penghujung malam karena berpacu dengan melodi (read: waktu) demi memfasilitasi “mereka” untuk menggunakan hak pilihannya. Para pejuang pilihan ini bernaung dalam slogan tidak ada jam yang diistirahatkan, dan istirahat yang di jam-kan.

Pertanyaan yang biasanya bersifat normative saat session wawancara itu akhirnya bukan sebuah wacana semata.  Tetapi melahirkan sebuah koensekuensi yang harus diterima demi sebuah tanggung jawab. Disini aku faham yang berat itu bukan rindu, tetapi berjuang dan mempertahankan pilihan. Dan  lagi para milenial terlampau salah menyimpulkan, yang menyakitkan itu bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan tapi perjuangan yang diabaikan, sudah larut memperjuangkan tetapi yang dituju malah abai untuk memilih. Ekhm sakitnya tuh disana bukan disini. Hehe

Tetapi terberkatilah, episode – episode yang luar binasa itu yang kemudian kelak akan melekat hangat dalam ingatan. Mulanya mungkin dianggap luar binasa tapi  kemudian bisa terganti dengan luar biasa, kemalangan nasib dari rekan pejuang pilihan yang sepenanggungan akhirnya merekatkan dan mempersatukan barisan para pejuang pilihan yang selalu bermesraan dengan data dan belajar untuk bersama dalam menertawakan kegelisahan.



Dan bermulalah seni menikmati hidup dengan beragam keresahan sebagai para pejuang pilihan. Moment “nugas” menjadi ajang “meet up”, meniadakan keresahan sendiri dengan berjamaah dalam melawan keresahan. Temuan baru pun didapat, kali ini bukan tentang kesalahan seperti biasanya melainkan temuan baru bernama keluarga. Barisan para pejuang pilihan yang saling meringankan beban sepenanggungan, saling mengulurkan tangan tanpa melihat zona batas wilayah. Intinya para pejuang pilihan tak boleh lupa cara berbahagia, jika perlu berpura- pura bahagia sampai dibatas lupa bahwa sedang berpura- pura bahagia.Iya, karena tenaga yang kuat untuk menjadi seorang pejuang pilihan adalah hati yang bahagia. Iya Hati yang bahagia adalah resep umum yang berlaku untuk menentukan sebuah pilihan, dan seperti yang sudah ku bilang karena hidup adalah pilihan maka sudah barang tentu setiap kita akan selalu bertemu dengan pilihan. Maka, berlatilah dari dalam keluar untuk terus berbahagia. Dia akan menjadi tenaga untuk membuatmu tangguh dalam setiap keadaan, sampai  angin berembus kencang pun berasa angina sepoi- sepoi yang menyegarkan.

Bahwa hidup adalah tentang belajar adalah benar adanya. Maka dari sekian episode yang menitipkan kenangan juga oleh – oleh  kedewasaan yang di PR-kan adalah menjadi bagian dari para pejuang pilihan. Jika untuk memperjuangan pilihan dari sekian banyak orang dengan pertalian tanggung jawab saja  di emban, maka seharusnya tanggung jawab untuk pilihan atas diri pribadi pun tertanggung dengan bahagia. Maka nikmatilah setiap pilihan dengan ………………..






(Review) Bermonolog Untuk Menikmati Hidup Dengan Bercermin Pada Buku Jalani, Nikmati, Syukuri



Buku               : Jalani, Nikmati, Syukuri
Penulis                    : Dwi Suwiknyo
Tebal Halaman        :259 Halaman
Penerbit          : Penerbit Noktah (DIVA Press Group)



 Intro 

Tak kenal maka taaruf-an, tak bahagia maka bacalah buku ini, *bukan promosi.  Buku ini memang bukan cokelat yang kata orang bisa menghilangkan kegalauan, tetapi  buku ini bisa  mengajak kita untuk asyik tenggelam dalam perenungan, eits bukan untuk bersendu ria apalagi tenggelam dalam ratapan mengingat mantan melainkan mengajak kita untuk bahagia. Seperti tagar yang ramai kita gunakan dalam  medsos #jangan lupa  bahagia, cover buku dengan warna merah menyala ini mengajak pembaca untuk tersenyum ceria, seperti caption dalam cover ini. "tempel foto senyum kamu di sini yah"

Cover buku
Membuka Halaman prolog dari buku Jalani Nikmati Syukuri, sudah membuatku bernafas sejenak, kemudian memikirkan quotes yang terpampang di halaman depan itu.  Sebuah penggugah yang berbunyi “ Apa artinya kesibukan kalau tidak bisa kita nikmati? Apa artinya pekerjaan bergengsi tapi bikin kita mudah stress? Apa artinya kesuksesan kalau akhirnya membuat kita terkapar di rumah sakit?
Ilustrasi cerita dengan gambar

Prolog pun berlanjut pada kisah nyata, cerita tentang dia yang terlalu berorientasi pada goal hingga merenggut proses menuju goal tersebut tanpa bahagia menikmatinya.  Secara tidak langsung prolog tersebut mengajak kita untuk memainkan  Peran  dengan menikmati dan mensyukurinya. Mengupayakan bahwa kita bahagia menjalaninya. Agar hati pun diliputi perasaan tenang, tenteram, puas juga senang. Bukan tertekan dan banyak tuntutan. Buku ini memberi kunci bahwa untuk bisa menikmati, mensyukuri dan menjalani dengan tenang, prinsip – prinsip hidup yang luhur dari Allah dan Rasulnya perlu kita miliki. Agar tak terjebak pada kelelahan jiwa yang berlarut- larut. Buku ini mengajarkanku bagar memikirkan bagaimana cara kita menikmati hidup, juga bagaimana cara menyikapi hasilnya.

Tema  yang menarik perhatianku secara pribadi adalah session tentang belajar bahagia, tidak melupakan cara bahagia, belajar melepaskan dan belajar menerima agar  bahagia dalam setiap kondisi.  Bukan hanya dalam suka melainkan duka. Jika dalam suka, kita mudah untuk alpa maka dalam duka adalah satu jalan agar kita mau bercumbu mesra kepada-Nya.

Dalam Halaman 16, dengan tampilan yang penuh warna dengan design memadukan perkawinan antara masalah dan jawaban Allah atas masalah yang sering kita keluhkan.
Layout yang menarik


Seperti saat kita mengeluh. "Ah, mana mungkin bisa terjadi" maka jawaban dari-Nya adalah “Jika Aku menghendaki, cukup Aku berkata “Jadi”, maka jadilah.” (QS. Yaasiin : 82).

Dan saat kita mengeluh. "Aduh, rasanya aku letih sekali".  Maka jawaban dari-Nya adalah “.. dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahar.” (QS. An- Naba : 9 )

Lagi Saat kita mengeluh. 'Beban hidup ini rasanya berat sekali', maka jawaban dari-Nya adalah “ Aku tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al – Baqarah : 282).

Kemudian saat Kita pun mengeluh. "Ya ampun, rasanya gelisah terus".  Maka jawaban dari-Nya adalah “Hanya dengan mengingatKu, hati akan menjadi tenang.” ( QS. Ar- Rad : 28).

Lalu saat kita masih mengeluh. "Perjuanganku sia- sia saja !". Maka jawaban dari-Nya adalah “Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarrah pun niscaya ia akan melihat balasannya.” ( QS. Al – Zalzalah:7).

Lagi dan lagi saat kita mengeluh. "Aku pesimis, siapa yang akan membantuku?" maka jawaban dari-Nya adalah “ Berdoalah (minta bantuan) kepada-ku niscaya Aku kabulkan untukmu.” (QS. Al- Mukmin : 60).

Dan saat kita masih saja mengeluh “Rasanya aku sedih sekali, khawatir dan merasa takut. Maka jawaban dari-Nya adalah “….La Tahzan ( jangan bersedih), Innallaha ma’ana (sesungguhnya Allah bersama kita). (QS> At – Taubah : 40). 

Atau saat kita pun masih mengeluhkan. “Ya ampun, pekerjaan ini sulit sekali. Maka jawaban dari_nya adalah “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” ( QS. Alam Nasyrah : 6).

Dan keluh kesah itu, hampir pernah aku alami, bahkan saat menyelesaikan bacaan itu aku dalam zona sedang berkeluh kesah. Jleb, bacaan itu mengingatkanku kembali. Bahwa lelahku dan beban pikul yang sering kukeluhkan berat itu, resah juga semua gundahku tiada satu pun yang tidak terjawab oleh-Nya, hanya mungkin aku yang abai untuk mencari hikmah dibalik setiap peristiwa. Satu quotes yang menjadi penutup kunci – kunci penyikapan permasalah itu semakin mengajakku untuk bernafas lega.

Qoutes
 “Without the sad times, the happy times would not be so enjoyable”  (Tanpa masa- masa sulit, saat –saat bahagia tidak akan begitu menyenangkan.  Aku pun menirukan jargon Ip*n dan  Up*n. “Betul, betul, betul” saat menutup session itu. Iya, aku pun menganggukan kepala. Karena benar telah mengalami, bahwa duka yang kita rasakan adalah sumber senyum bahagia saat suka menyapa.



Bercermin

Berikutnya, buku jalani nikmati dan syukuri ini pun mengajak kita untuk bercermin dan menilai diri kita sendiri. Pembuka bab dari tema buku ini, kita disuguhi quotes yang menarik “ Hanya Allah yang tahu atas kebenaran apa – apa yang tampak dan apa- apa yang tersembunyi !”.  Kemudian pembaca diajak untuk merenung pada kisah nyata yang disajikan penulis tentang penilaian akan tampilan. Kisah tentang seorang penulis yang tertipu akan penampilan  “ustadz” dari calon orang yang akan bermitra dengannya untuk menjual buku – buku penulis tersebut. Padahal susah payah ia mengumpulkan modal untuk bisa menerbitkan buku dan jauh sbelum kesepkatan itu terjalin, ia pun telah berhasil menjual buku dan memasarkan bukunya sampai tingkat nasional. Karena ucapan dari ”sang ustadz itu” yang fasih dalam merafal kalimat thayyibah dan selembar cek yang ditawarkan akhirnya memikat penulis tersebut untuk percaya dan bermitra denganya, sampai kemudian ia menyadari bahwa cek yang terima hanyalah cek kosong dan dia telah masuk dalam tipuan dari seorang ustadz gadungan itu. Kisah tersebut pun, penulis memberikan point bahwa tidak selamanya akhlak seornag itu sebaik pakaian yang dikenakannya, pun dengan integritas yang tidak hanya diukur dari pekaian semata karena nilai diri  dari seseorang terpancar dari akhlaknya. Pada akhirnya session subtema ini berhasil mengajakku untuk bermonolog, “jangan- jangan selama ini jalan hijrahku hanya berganti kulit?”


Setelah bercermin akan penilaian diri, buku ini pun mengajak untuk menilai diri dari dalam. Menelaah apa yang tersembunyi, seperti benci. Benci yang bisa menjadi racun atau benci yang menjadi energy positif.  Untuk benci yang menjadi racun maka ini  yang berbahaya. Maka  kiat yang ditawarkan dari buku ini adalah berdamai dengan diri sendiri  juga berdamai dengan orang yang secara sengaja atau tidak melukai hati kita.  Selanjutnya cara berdamai dengan diri dari mereka yang sengaja atau tidak sengaja melukai hati kita, bisa ditemukan dari sub tema tentang seni memaklumi dengan tiga rumus seni memaklumi. Pertama  maklum karena ia tidak sengaja. Kedua, maklum karena ia belum faham dan ketiga maklum karena ia belum tahu caranya. Cermin selanjutnya dari buku ini adalah tentang kita dan sekitar. Tentang haters yang bisa jadi kehadirannya adalah anugerah

Epilog
Apakah bahagia itu bersyarat? Bila iya, cukuplah rasa syukur sebagai syaratnya. Termasuk bersyukur ketika diuji. Bersyukur saat diuji, sebab diberi kesempatan untuk naik level. Bersyukur ketika diuji, sebab ada tantangan baru yang menanti. Perjalanan bermonolog dengan buku ini akan membangkitkan refleksi diri kita tentang sejauh mana rasa syukur kita dalam menikmati hidup.