Muslim Saja Tak Cukup


Selesai Isya, ada jeda sebelum masuk sunnah tarawih..
"Teh pindah posisi, eh keula teh (sunda : Eh bentar kak). Mau tanya bener gak sih kalau mau ba'da, sunnahnya ganti posisi, ada dalilnya?" 
"Eh, apa yah( loading) gak tahu beud, aku mikirnya pindah posisi itu sebagai tanda untuk yg kemungkinan ngemasbuk, dengan shaff yang renggang mereka jadi ngeh kalau shalat yg dikerjakan itu sunnah, bagian pindah posisi itu sunnah atau bukan, belum dapat ilmunya (belum dapet apa gak nyari)
Ternyata benar, muslim saja gak cukup tapi harus berilmu...
Lalu kemudian teringat kembali, keterhubungan yang semisalnya. Kali ini tentang ekspektasi...
Dialog lama yang masih ku ingat betul,
"Teh mihwar apa artinya?"
"Fahami aja konteksnya, nanti juga ngerti sendiri artinya apa?"
"Aku nanya arti mufradhatnya, ngeh kok maknanya..bilang aja gak tahu, kumaha sih 3tahun mts+3 tahun aliyah teh !"
"Wkwkwk...gak ada kosakata itu,gak nemu kosakata mihwar  waktu sekolah, (ngeles level tinggi), partner dialog dan debat masih orang yang sama, rekan kuga kerabat mblo sejawat wkwkwk
Lalu setelah kita muslim, kemudian mencari jalannya untuk berilmu akan bertemu dengan kondisi internal untuk memilih, memilih pilihan jalan untuk berilmu sedang sisi lain ekspektasi dan praduga sebagai pihak eksternalnya, membentuk standarisasi  jika dan jika maka, apabila A seharusnya A. Keterhubungan yang naik kelas.
Tapi ternyata tugas tak sampai disitu.  Menjadi muslim saja tak cukup, beriman dan berilmu pun masih tak lekas menjadi usai.  Berakhlak mulia, PR berat selanjutnya.
"Aktifis Dakwah, masa gitu !" 
kalimat lama yang seolah menjadi kaset lama yang terus akan di replay ulang, PR yang berlaku untuk semua muslim. Ralat bahkan semua insan. Akhlah mulia adalah perisai dan sebuah kebaikan yang universal tanpa memandang suku, agama juga golongan. Yang balasannya pun universal, siapa yang menanam dia yang memetik, tapi karena kebahagian yang ingin dicapai adalah dunia dan akherat itulah kenapa akhlak harus pula disertai iman. Sekaligus antitesis bahwa semua agama itu baik.Tepatnya semua agama memang baik, tapi Islam jalan kebenaran juga keselamatan.
Terkait ekspektasi tadi, benar bahwa akan ada ekspektasi yang semakin meningkat. Saat kita salah bukan lagi atas nama pribadi yang mereka lihat tapi ada keterhubungan yang secara tidak sadar akan terbangun, namun ia menjadi reminder terbaik untuk terus menata diri bukan memenjarakanmu dalam kemunafikan. Saat kita salah, ada pandangan yang melirik cirle lingkaran kita. Ambil contoh oknum aktifis yang doyan pacaran, tanpa sadar ada pandangan mereka yang juga memberikan stigma negatif pada lembaga yang diikuti oleh si oknum aktifis tadi.
Syukurilah keberadaan yang membawamu dalam keterhubungan, karena yakinilah dalam kesendirian itu jalan futur begitu menggiurkan, kamu tahu betul srigala akan melumat habis domba yang hilang dalam komunitasnya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar:

komentar
14 Oktober 2017 23.40 delete

Mesti tau ilmunya. Jika sudah tau ilmu (agama) di praktikkan dan diamalkan serta disampaikan pada muslim yang lain (dakwah) insya Allah akan berkah.

Reply
avatar