Resensi Puisi Dia Yang Memunggungimu, Merasa dengan Meresapi




Sebuah puisi karya Khrisna Pabichara

 Dia yang Memunggungimu

Kita berada di pelukan yang sama. Aku memeluk lututku, kamu memeluk bayangnya. Kamu akan tenang meninggalkanku, aku pasti senang menunggalkanmu.

Kita berdiam di rumah yang sama. Aku di masa entahmu, kamu di masa lalunya. Kamu berbahagia dengan melupakanku, aku berbahagia dengan mengingatmu.

Kita tegak di jalan yang sama. Aku memandangi punggungmu, kamu menangisi punggungnya. Kamu mengandalkannya, aku mengandaikanmu.

Tantangan kali ini terasa berbeda, meresensi sebuah puisi. Iya puisi bukan novel atau sebuah buku. Bukan puluhan atau ratusan halaman yang kemudian disimpulkan intisari dengan ulasan kelebihan dan kekurangan. Tetapi puisi? Kata demi kata yang tak memiliki tafsir tunggal. Pengarang puisi sendiri yang lebih paham akan hakikat maksud yang ia tuliskan.  Tetapi sebuah karya, bahkan yang kontekstual sekalipun memiliki siratannya tersendiri. Maka sebagai sudut seorang pembaca yang kemudian menginterpretasi puisi tadi adalah tentang tokoh Aku yang mencintai dia yang mencintai orang lain.
Dia yang Memunggungimu, dari judul kepiluan itu terasa. Memunggungi yang bisa jadi mengabaikan. Pengabaian itu terasa dari bait pertama.
Kita berada di pelukan yang sama. Aku memeluk lututku, kamu memeluk bayangnya. Kamu akan tenang meninggalkanku, aku pasti senang menunggalkanmu.

Tokoh aku dan kamu yang bisa jadi ada dalam kebersamaan tetapi tiada ketersalingan. Tokoh aku yang setia mencintai sedang tokoh kamu yang akan dengan mudah melupakan.

Kita berdiam di rumah yang sama. Aku di masa entahmu, kamu di masa lalunya. Kamu berbahagia dengan melupakanku, aku berbahagia dengan mengingatmu .
Kali ini tentang tokoh aku dan kamu ada dalam  ruang yang sama tapi berbeda dimensi. Tokoh aku yang luput dari ingatan tokoh kamu dan tetap berbahagia dengah hanya memiliki rasa sepihak saja.
Kita tegak di jalan yang sama. Aku memandangi punggungmu, kamu menangisi punggungnya. Kamu mengandalkannya, aku mengandaikanmu.
Lalu pada bait terakhir diungkapkan bahwa mereka ada pada tempat yang sama dengan kondisi yang berbeda. Satu jiwa mencintai sedang yang dicintai mencintai yang lain.

Ulasan : Nuansa yang terasa saat membaca puisi tersebut terangkum dalam satu kata pilu.
Kelebihan : rima yang sederhana tapi mengena, diksi yang umum tapi mengesankan.
#katahatichallange
#katahatiproduction.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

2 komentar

komentar
3 Februari 2019 00.52 delete

Ulasannya menarik sekali, memang banyak ya yang bisa digali dari puisi satu ini.

Reply
avatar
4 Februari 2019 19.11 delete

Makasih kak Ikhsan kunjungannya padahal tak selengkap ulasannya kak Ikhsan

Reply
avatar